WALAU SULIT TAPI SAYA TELAH MENENTUKAN PILIHAN...!

Iklan Semua Halaman


Header Menu

WALAU SULIT TAPI SAYA TELAH MENENTUKAN PILIHAN...!

Redaksi
Jumat, 06 November 2020

 


Curahan Hati: Pinto Janir (sastrawan)


Ternyata hal yang  paling berat itu adalah memutuskan. Apalagi di saat mana kita benar-benar berada di ruang yang amat sempit dan  sulit nan merasuk ke ruang rasa. Kala itulah kita merasakan betapa tak asiknya terjajar oleh pilihan yang sulit. 


Bila kita terlukah pada pilihan yang sulit, tak ada pilihan lain. Kita harus keluar dari lukah tanpa harus cabik-cabik. Caranya, berserah diri pada kesunyian. Tariklah rambut dalam tepung itu. Rambut tak boleh putus. Nan tepung, jangan sampai terserak pula. 


Kebijaksanaannya adalah kebijaksanaan yang mengarifi keadaan. Pilihan tanpa kearifan  berpeluang menciptakan garus. Maka tak ada pilihan lain. Pikiran  dan hati tak boleh saling menjatuhkan vonis yang berbeda. 


Keraguan berpangkal pada ketidaktahuan yang penuh. Adanya keputusan  tanpa keraguan adalah karena “pengetahuan”. Pengetahuan yang membuat kita percaya. Pengetahuan pula yang membuat kita yakin dengan keputusan yang ditetapkan.


Pengetahuan meruntuhkan keraguan!


Kalau sikap diputuskan berdasarkan logika semata , maka ia berpotensi mengirimkan luka-luka.  Bagaimana kalau sikap diputuskan berlantai “rasa” semata di mana yang kita kemukakan adalah rasa dan mengabaikan logika? Apa yang terjadi? 


Kecelakaan fakta !


Bagaimana harusnya? Kalau kita persudutkan diri dengan keharusan-keharusan, maka pada saat itu kita telah  kehilangan “kemerdekaan” dalam memilih. Bagaimana caranya supaya kita merdeka dalam menentukan pilihan? 


Pertama, lepaskan diri dari segala tekanan. Baik tekanan lahir maupun tekanan bathin. Bawa diri berdamai dengan ketentraman dan kesenangan serta kenyamanan untuk menghantarkan harapan yang diyakini sesuai dengan cita-cita masa depan. 


Taklukkan diri. Bunuh kepentingan pribadi. Utamakan kepentingan masa depan orang banyak. 



Sesungguhnya....saya sudah enggan bermain di ruang politik praktis. Kalaupun sekali-sekali saya seperti berpolitik praktis, maka itu tak lebih dari bagian ekspresi pikiran dan hati yang harus saya deskripsikan. Saya tak boleh pula kehilangan imajinasi politik. Bila imajinasi politik saya mati, diksi saya lumpuh. Nada saya kacau. Irama saya fals. Lirik saya tak beraksara lagi. Itu sama saja menanamkan kerakap di atas batu dan menaruhkan batu di atas kepala!


Baiklah. Oke...!


Begini ceritanya:


Hampir semua calon Bupati di Agam adalah kawan kita semua. Bahkan Bupati Agam nan Indra Catri itu yang kini menjadi calon wakil gubernur Sumbar mendampingi calon gubernur Nasrul Abit adalah sosok yang sudah saya kenal sejak tahun 90-an. Ia cerdas.Ia pintar. Ia baik. Ia saya anggap berhasil membangun Agam. 


Kerenlah !


Nan saya ini berpusako tinggi, berpandam kuburan, bertapian mandi, berumah gadang di Padang. Tepatnya di Buahalai Parakkopi. Suku saya Sikumbang. Balahan saya dari Batipuh. Konon, leluhur saya merantau ke Padang sudah ratusan tahun. Papa saya, bersuku Tanjung. Negeri asal papa saya Duriankapeh Tiku Agam. Papa saya berbako ke orang Sikumbang Kampuangpinang Parakkopi Padang. 


Istri saya orang Chaniago Pasarberingin Lubukbasuang. Konon, leluhur istri saya berasal dari Gadut Agam. Papa dari istri saya bersuku Sikumbang Padanglua Agam. 


Agam adalah tanah leluhur bako saya dan kampung anak-anak saya. Dengan begitu, emosional saya terhadap Agam sungguhlah kuat. Pantas dan patut kalau saya ikut peduli terhadap Agam nan berpuspa di hati.



Saya, tinggal dan menetap di kota Bukittinggi. Walau begitu, perhatian saya kepada Padang dan Agam serta Bukittinggi di ranah Minangkabau tercinta tak pernah reda-reda.  



Saya menyimak perkembangan politik di Agam menjelang Pilkada serentak yang diikuti 270 daerah; 9 provinsi,224 kabupaten dan 37 kota yang akan dibentang pada 9 Desember 2020. 



Berbilang bulan saya menyimak perkembangan dan peta politik terkini, khususnya di Agam. Berbilang bulan pula saya bertanya pada pikiran,hati dan diri. 


Ini malam, di tanggal 6 November saya berpadat hati dan bertetap pikiran untuk memberikan dukungan suara kepada DR Andri Warman dan Irwan Fikri. 

Pilihan ini adalah pilihan yang muncul tidak secara mendadak, tapi melalui tahapan “sunyi” ke sunyi yang saya yakini muncul dan datang dari paduan harmonis pikiran dan hati. 


Apakah saya sudah mengenal DR Andri Warman? Apakah saya sudah mengenal Irwan Fikri? Mengapa saya sampai pada noktah terinti menentukan sikap mendukung DR Andri Warman (AWR) dan Irwan Fikri?


Bagi saya politik itu adalah pikiran dan hati. Politisinya haruslah politisi yang berpikir dan berhati. Soal kepemimpinan adalah soal berpikir, belaksana,berperasaan berlandas pantas dan patut. Ia terpuji dalam gagasan.Ia terpuji dalam sikap sosial.Ia terpuji dalam banyak hal. Ia terpuji dengan cepat tanggap. Ia terpuji dalam kesungguhan. Ia terpuji dalam sikap dan kata. Ia terpuji dalam kejujuran. Ia terpuji dalam inovasi. Ia terpuji karena ia benar-benar menyedekahkan diri untuk adab dan peradaban  yang menghantarkan  para insani ke ruang lapang yang  jauh lebih baik.

 


Inilah alasan saya, mengapa DR Andri Warman kukuh di pikiran dan di hati kita. Beberapa kali saya bercakap-cakap dengan beliau. Saya menyimak gagasannya tentang pembangunan pendidikan, pertanian, kepariwisataan,  kewirausahaan/ usaha kecil dan menengah, pembangunan masyarakat pesisir, budaya,seni,tradisi dan penguatan di ruang ketaqwaan. 


Ia maju.Ia tampil. Ia bergerak dengan kesungguhan dengan membawa pikiran-pikiran yang jelas, terang dan bercita-rasa untuk masyarakat yang mengimpikan kesejahteraan. 


AWR sosok yang merakyat. Cerdas dan pintar. Pandai bergaul. Rasa sosialnya kuat. Ia dikenal sebagai seorang dermawan. Pemurah. Ia curah kepada orang susah. Soal ini, hampir semua orang yang bersentuhan dengan AWR mengetahuinya. Ia disayang banyak orang. Rendah hati menjadi pesonanya. Pikiran cerdas menjadi  daya pikatnya. 


Itu dia !


Irwan Fikri? 


Lima tahun yang lalu, saya mendukung Indra Catri untuk menjadi Bupati Agam. Saat itu  Irwan Fikri menjadi pesaing Indra Catri. Pada saat itu pula saya meyakini peta politik sedang berpihak pada Indra Catri. Secara logika, waktu itu sulit bagi Irwan Fikri mengalahkan Indra Catri yang melekat di hati masyarakat Agam. 


Indra Catri yang berpasangan dengan Trinda Farhan Satria pada Pilkada Agam 2015 itu meraup suara 94.196 (53,50%). Sedangkan Irwan Fikri yang berpasangan dengan Chairunas memperoleh suara sebanyak 81.885 (46,50%).


Irwan Fikri-Chairunas memperoleh suara 81.885. Saya rasa, suara pendukung personal Irwan Fikri saya yakini pada masa itu lebih dari 60 ribu suara. Suara yang 81.885 ribu itu, tentu lebih banyak karena faktor atau sosok  Irwan Fikri-nya. 


Kini, Irwan Fikri “mengalah”. Ia menjadi calon wakil Bupati Agam mendampingi Dr AWR. Saya mengamati, dari hari ke hari, pergerakan suara AWR sangat signifikan dalam lonjakan yang saya simak sangat tajam. Setidaknya, suara personal pendukung AWR, besar kemungkinan lebih dari 60 ribu suara. Pada pilkada Agam 2015, suasana pertarungan adalah head to head. Kini, ada empat pasang calon yang akan bertarung. Tak bisa tidak, suara pasti terbagi empat. Dalam kalkulasi saya, ketika suara berbagi empat, pada saat itulah suara DR AWR dan Irwan Fikri  berpadu meraup suara terbanyak. Setidaknya, begitu saya berkira-kira sesuai fakta lapangan terkini sejauh yang saya amati. 



Kembali ke Irwan Fikri?


Saya mengenalnya. Bukan hanya sekedar kenal. Kami pernah satu sekolahan di SMA 3 Padang. Bukan hanya satu sekolahan, kami sama-sama pengurus Osis. Bukan hanya sekedar sama-sama pengurus Osis, kami pernah sama-sama satu tim karate membawa nama SMA 3 Padang di kejuaraan Karate antar SMA se Sumbar. 


Irwan Fikri, nama kecilnya Awang. Awang adalah tipikal yang tenang dan peduli pada kawan-kawan. Ia pandai berkawan. Baik. Sejak SMA sudah tampak kepiawaian Awang memimpin kawan-kawan. Ia visioner. Saya dan Awang bersahabat sejak SMA. Ia salah seorang konco palangkin saya. 


Pada Pilkada 2020 ini saya yakin, bahwa pasangan DR AWR dan Irwan Fikri akan menorehkan sejarah baru di kepemimpinan Agam. Gerakan yang dilakukan AWR dan Irwan Fikri makin hari makin mantap. Makin hari, suara-suara tiba bak hujan lebat turun dari langit. Keyakinan saya, AWR dan Irwan Fikri akan “kuyup” oleh suara-suara rakyat yang mengimpikan sosok bupati yang benar-benar di hati  yang membawa Agam ke taman masa depan berseri-seri!


Saya mengimbau sahabat semua, kinilah saat yang tepat untuk memercayai DR AWR dan Irwan Fikri memimpin kabupaten kita. Kabari narasi ini kepada “alam semesta” di saat mana, saya,kita,awak, telah berhasil menentukan pilihan pikiran dan hati. 


Ingat, mereka nomor 4 !   


 Bukitinggi 6 November 2020