DATUK BATUJUAH PERTAPA YANG TURUN GUNUNG !

Iklan Semua Halaman


Header Menu

DATUK BATUJUAH PERTAPA YANG TURUN GUNUNG !

Redaksi
Senin, 10 Agustus 2020



Wakil Walikota Bukittinggi H Irwandi Datuak Batujuah bersama Pinto Janir ,sastrawan asal Minangkabau dalam suatu percakapan di Rucola Bukittinggi 10 Agustus 20


Catatan: Pinto Janir


 


Sahabat saya yang satu ini adalah sahabat yang membanggakan. Saya bangga berkawan dengannya, karena ia adalah kumpulan dari lapisan kecerdasan. Ia adalah sosok di ruang pikiran yang solutif. Kesantunannya. Cara berkawannya. Cara ia berpikir untuk orang banyak. Jalan pikirannya yang masak untuk membuka ruang-ruang baru bagi perekonomian masyarakat, menggenapkan kebanggaan saya berkawan dengannya.


 


Jalinan emosional perkawanan saya dengan beliau jauh hari sudah terjalin dalam rasa berdunsanak. Yang membuat kita betah bercakapcakap dengan beliau adalah pikiran beliau yang jauh ke depan. Ia adalah penganut “ajaran” visionerisme. Yakni, masa lalu sebagai pertimbangan, masa kini untuk masa depan yang lebih terang di langit kehidupan yang lebih cerah.


 


Ia seorang konseptor yang melaksanakan jalan  pikiran dengan kesungguhan. Ketika menjadi  Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Tenaga Kerja Kota Payakumbuh (2003-2004), ia berpikir untuk mengangkat dunia perdagangan kota. Ia “bersaran” untuk kota ini menghidupkan spirit kuliner 24 jam di kota yang damai ini. Ia mulai menyampaikan gagasan ke Pak Walikota untuk membina pedagang-pedagang kuliner dalam konsep pembangunan “kanopi”. Yakni memberi ruang teduh kepada pedagang kuliner kita.


 


Perumpamaannya, ketika orang berpikir menjual lado, ia berpikir mengembangkan dan menjual benih unggul dari lado itu sendiri. Ketika menjadi Sekda di Kota Payakumbuh, peran dan pikirannya berlapang ke ruang pikiran sang walikota waktu itu.  Kesetiaan, kesungguhan dan kecerdasannya berpikir ia wakafkan dalam ketulusan hati kepada “sang walikota” untuk pembangunan kota yang benar-benar bernuansa madani dalam segala kesejukan hati yang indah.


 


Irwan Datuak Batujuah, ia sosok yang berdisiplin luar biasa. Baginya, konsep itu harus terukur dan jelas capaiannya. Baginya, sebuah kerja bukan untuk ditunda. Bila bisa dikerjakan saat ini, jangan menunggu saat esok. Menunda-nunda pekerjaan adalah sesuatu yang membuat hidup selalu dalam bayang kegelisahan.


 


Terkadang, tipikalnya  yang cepat, tepat dan jelas adakalanya menjadi “tekanan” bagi sebagian orang yang diberi tugas dan amanah untuk melaksanakan kerja. Tipikalnya terkadang “mendesak”. Sementara, orang  lain yang terbiasa dengan cara kerja santai merasa “terbeban” dan “tertekan”.


Suatu kali, ada beberapa kali saya sedang berada di ruangnya. Diam-diam, saya mengintip pembicaraannya. “ Kapan dapat diselesaikan?” ia bertanya. Staf menjawabnya,” Secepatnya, Pak?”. Sebentar ia terdiam. Kemudian ia memandang stafnya itu dengan keyakinan.


“ Ya, secepatnya itu kapan?” ia memastikan.


“Besok, Pak?”


“Ha, besok? Masak hanya untuk sekedar mengonsep surat kita harus menunggu besok pula? Kalau begitu biarlah saya yang membuat !”


Mendengar hal itu, stafnya diam. Lalu pamit. Satu jam kemudian surat itu sudah ada di mejanya.



“Itulah tradisi sebagian kita. kerja satu jam, harus menunggu besok.Kerja satu hari, harus menunggu satu tahun. Ia yang saya tidak suka. Hidup itu berlalu dengan sangat cepat. Waktu bergulir dengan lekas. Kalau pekerjaan sering tertunda-tunda, kapan kita bisa maju?” begitu kata sahabat saya ini.


 


Siapa beliau.


 


Ia adalah H Irwandi SH Datuak batujuah. Pernah menjadi Sekda di kota Payakumbuh. Dan sejak tahun 2016 dilantik menjadi wakil Walikota Bukittinggi mendampingi H Ramlan Nurmatias.


 


Spirit rasa cinta pada kampung halaman seorang Irwandi sangat jelas, terukur dan terpuji. Ia sangat dekat dengan sejumlah tokoh masyarakat,pemuda, bundo kanduang, sahabat-sahabat, dan ninik mamak—terutama ninik mamak Kurai. Ia berhasil merajut dan menyulam rasa “kebersamaan” dengan para ninik mamak di Kurai dan kawannya banyak di nagari ini. Bahkan, ia santiang menjalin jaringan persahabatan antara kampuang dan rantau. Ia kuat berkawan dengan orang-orang pusat.


 


Sahabat saya ini, sahabat yang disayang bagi insan yang bekerja sungguh-sungguh dan sahabat bagi orang banyak. Ia, teridami seperti nyanyian alam yang indah di relung hati.


 


Ia pernah bercerita pada saya, ketika ia baru dilantik, bersama-sama H Ramlan mereka berpikir dan berlaksana untuk menjadikan kota Bukittinggi menjadi kota idaman. Kota tempat “orang” bermimpi dengan indah. Kota tempat orang, menikmati keindahan alam dan kesejukan udaranya seperti sejuknya sebuah puisi dari seorang penyair yang paling romantic.


 


Sedikit intermezzo. Sewaktu Pilkada Bukittinggi dulu, ketika Ramlan dan Irwandi berpasangan, saya berdiri tidak di pikiran Ramlan-Irwandi. Saya berdiri di pikiran pasangan lain yakni Febby Datuk Bangso dan Ifkar. Kepada beliuas saya sampaikan, “ Tujuan utama Febby-Ifkar untuk maju, bukan untuk menang. Tapi public tahu, ini tak lebih dari sekedar pembuktian saja, bahwa dengan 1 kursi PKB bisa memajukan calonnya jadi walikota. Ia tak lebih dari hanya untuk membangkitkan rasa percaya diri kader PKB se Sumbar, bahwa PKB bisa. Dan, yang terakhir saya bisikkan, ini hanya sekedar pengobat luka dan rasa kecewa ketika mana kesepakatan sudah mulai hampir tersulam untuk Febby maju ‘berdua sosok lain’ namun di tengah jalan  sulaman itu cabik tak selesai…..”.


Sahabat saya ini memaklumi. Febby memang tak menang, tapi sahabat saya dan pasangannya menang serta menjadi walikota dan wakil walikota.


 


Kembali ke kisah sahabat kita semua ini…


Tak berapa lama Ramlan-Irwandi dilantik, kerja cepat dan kerja ligat mulai terlaksana. Bertanya walikota Ramlan kepada wakilnya, Irwandi.


 


“ Pak Wawa, apa mungkin kita mampu meraih Adipura, sementara waktu yang tersedia hanya tinggal 4 bulan saja?”


Saya dapat “memakrifatkan” (membayangkan) bagaimana suasana pertemuan pada percakapan itu.


 


Saya yakin, sahabat kita ini akan menjawab dengan senyum keniscayaan berpengetahuan. “ Bisa Pak Wali. Tak ada yang tak bisa.Tak ada yang tak mungkin. Yakin saya….!”, begitu kira-kira jawaban dari sahabat kita semua ini.


Yakin pula saya, bahwa seorang Irwandi adalah seorang pemikir dan pelaksana pekerjaan yang berkaji  tepat, jelas dan terukur. Irwandi, sejauh yang saya kenal adalah tipikal “pemikir” yang selalu “mengkaji capaiannya apa!”. Pada saat itu, sudah dapat saya duga, Irwandi akan memaparkan langkah-langkah untuk bagaimana meraih kembali Adipura yang sudah 20 tahun “lenyap” dari kota ini.


 


Sukses! Piala itu terbawa ke kota ini. Segala gagasan dan jalan pikiran Irwandi tentulah tersampaikan kepada sang walikonya.


Kita tahu, seorang wakil walikota hanya bertugas membantu Wali Kota dalam memimpin pelaksanaan urusan pemerintahan. Wakil walikota hanya melaksanakan tugas dan wewenang Wali Kota apabila Wali Kota menjalani masa tahanan atau berhalangan sementara. Wakil Walikota hanya bertugas dan berwenang  melaksanakan tugas dan kewajiban pemerintahan lainnya yang diberikan oleh Wali Kota yang ditetapkan lewat keputusan Wakil Kota.


 


Begitulah aturannya. Wakil Walikota tak lebih dari  pembantu walikota. Ia hanya bekerja bila walikota “butuh” bantuan.


 


Saya senang sekali, kota ini berkemajuan.


 


Sudah lama juga kami tak bercakap-cakap. Mungkin karena kesibukan masing-masing yang membuat ruang pertemuan itu sempit. Kami sama-sama memakluminya. Namun begitu, bersya helo melalui telepon tetap kami sulam.


Pada hari Senin siang tanggal 10 Agustus 2020, sahabat saya menelpon. Sudah lama kami tak bertemu. Sudah lama kami tak bercakap-cakap soal apa saja di ruang kemajuan. Percakapan kami itu dari dulu ke kini tak lebih dari sebuah “mimpi” di atas nagari. Mimpi indah tentang kebudayaan,ekonomi,pariwisata,perdagangan, pendidikan, pembangunan spiritual masjid dan surau, spirit sosial dan kebersamaan, kecerdasan dan kebangkitan, sastra, music, kuliner berkemajuan, kreativitas para muda, sanggar tradisi, pokoknya hal-hal ini di antara Singgalang Marapi  untuk kejayaan bumi Minangkabau.


 


Saya ke beliau tak “berinyiik”.Tak pula “berbapak”. Saya memanggil beliau sejak dulu dengan kata “abang”. Karena saya menganggap beliau adalah sahabat pikiran. Di mata saya, beliau adalah seorang budayawan dan seniman pikiran.


Saya suka dengan aksara beliau yang bermuatan filsafat. Saya suka dengan konsep beliau dengan diksi  “sehat” di segala ruang. Saya suka dengan filsafat sosial beliau yang beraroma “mantiko bungo” yang bermuara pada “idaman” semua orang.


 


Saya suka dengan kesukaan dan perhatian beliau pada dunia sastra dan kesusateraan.  Saya suka dengan spirit beliau dalam gelora kecerdasan. Cerdas bersikap, arif bertindak. Saya suka dengan kesabaran beliau. Saya suka dengan kerendahhatian beliau. Saya suka ketika membaca hidup dan kehidupan beliau yang benar-benar “menyerahkan” diri pada pengabdian dunia untuk akhirat.


 


Saya suka pada “diam”nya di ruang sunyi. Bagi saya ia adalah “pertapa” yang turun gunung dari Marapi dan Singgalang yang gagah !


 


Hidup itu adalah kasih sayang! Saya suka bahasanya.


 


Seorang Irwandi datuak Batujuah sangat mendukung sangat peduli dan sangat mendukung kemajuan serta kebangkitan sastra Minang. Beliau mendukung Novel Pacar Lamo diterbitkan versi buku. Bahkan beliau sangat bersedia hadir untuk meluncurkan NPL. “ Kota Bukittinggi adalah kota tempat lahirnya beberapa orang sastrawan besar di Indonesia. Saya apresiasi Pinto janir dengan novel berbahasa Minangnya yang banyak memikat para penggemar sastra Minang. Setidaknya, ada usaha bagi seorang Pinto untuk merawat dan melestarikan bahasa ibu dengan kisah yang luar biasa memikatnya !” ujar beliau dalam spirit bersastra sebiru dan secarah langit kota kita.


 


Beliau sangat suka puisi. Beliau sangat suka “jalan pikiran” bersolusi. Terakhir, kepada beliau saya bacakan sebuah catatan yang pernah saya muat di FB yang judulnya “Buat Apa?”.


 


Saya kutipkan kembali : “BUAT APA?


Orang cerdas tak menghiraukan di mana posisi tempat duduknya. Baginya, biarlah duduk di belakang tapi pikirannya berada di muka dan terkemuka serta terdepan. Buat apa diberi kursi duduk di muka tapi pikirannya berada di belakang, terbelakang dan terkaram. Tempat duduk bukan ukuran sebuah pikiran”.


 


Sahabat, terdepanlah.Sekarang saatnya!