MENGAPA NOVEL PACAR LAMO PINTO JANIR BIKIN HANYUT PEMBACA ? (Oleh : Syamsuardi Sjamsuddin /Wartawan Senior )

Iklan Semua Halaman


Header Menu

MENGAPA NOVEL PACAR LAMO PINTO JANIR BIKIN HANYUT PEMBACA ? (Oleh : Syamsuardi Sjamsuddin /Wartawan Senior )

Redaksi
Selasa, 02 Juni 2020


(Sebuah Apresiasi dan Kritik Bebas )




Hee yai yai...alun juo tibo di klimaks curito lai....
"He pam pam ...nyo gantuang wak...."
Itu di antara komentar yang muncul menanggapi novel "Pacar Lamo."
"Membaca ceritanya kita terbawa hanyut dalam alur cerita yang mudah dipahami dan dicerna oleh alam pikiran kita. Seolah olah kita mengalami sendiri kejadiannya. Mantap bang cerpenya."

Cukup banyak respon dan komentar atas novel Minang Pinto Janir berjudul Pacar Lamo. Ini di luar dugaan saya. Walaupun cerita masih belum tamat dan dapat diikuti di FB Pinto Janir, namun dari komentar yang muncul, terkesan sekali pembaca merasa penasaran, terutama pada episode 4 dan 5.

Sebenarnya cerita dalam bahasa Minang dari dulu kurang menarik perhatian saya. Sebab, suguhan kata dan kalimat dalam bahasa Minang sedikit merepotkan, sehingga terasa membebani pikiran, atau paling tidak suasana hati yang ingin menikmati jalannya cerita, sedikit terganggu karenanya.
Akan tetapi, setelah mengamati cukup banyak dan beragamnya respon terhadap novel berbahasa "awak" ini--bahkan ada komentar yang cukup mengelitik, sehingga menggugah saya untuk coba membacanya secara santai, akhirnya saya tertarik juga, baru kemudian membacanya serius. Lagi pula, semasa masih di es-de dulu, saya juga pernah membaca cerbung berbahasa Minang di Harian Singgalang. Setelah itu, setelah puluhan tahun berlalu, baru sekarang pula saya baca cerita berbahasa Minang lagi, yakni "Pacar Lamo-nya" Pinto Janir.
Roman "Pacar Lamo" yang menggunakan bahasa Minang ini ternyata cukup banyak penggemarnya. Pacar Lamo ini menyedot perhatian netizen. Ramai FB Pinto Janir. Komentarnya hingga ratusan. Sebab, cerita ini mengangkat tema "Cinta Selingkuh" yang kita tahu merupakan penyakit sosial kronis yang tak lagi sebatas gejala sosial, melainkan sudah menjadi fenomena sosial di tengah-tengah kehidupan masyarakat modern sekarang.

Ya, tentu saja punya daya tarik tersendiri, terutama bagi penggemar dari etnik Minang. Apalagi pengarang Pinto Janir cukup jeli mengangkat judul "Pacar Lamo" yang inheren dengan tema ceritanya.

Kemudian, roman berbahasa Minang, ternyata lebih mudah dipahami pembaca (tentu saja orang Minang sendiri). Pembaca mudah akrab dengan alur cerita, karena pendeskripsian dan dialog dengan bahasa Minang, tentu saja memiliki sentuhan norma-norma sosial yang berlaku dalam masyarakat Minang serta sentuhan budaya Minang itu sendiri, sehihngga membuat cerita ini menjadi lebih hidup.

Apalagi sejumlah seting (waktu dan tempat terjadinya perisitiwa) cerita novel "Pacar Lamo" lebih banyak terjadi di daerah yang loksinya tidak asing lagi bagi para pembaca. Seperti seting atau latar peristiwa di atas bus NPM yang menurut saya sebuah adegan yang sangat menarik dari cerita ini, serta beberapa tempat di kota Padang dan Bukittinggi. Begitu juga karakter tokoh yang dideskripsikan dalam bahasa Minang dan dialog-dialog Minang yang terasa menyentuh dan mudah membangun unsur penegasan yang bersifat menyentak pembaca.

Justeru dengan menggunakan bahasa Minang, terasa lebih mengena pendeskripsian konflik bathin yang dialami tokoh utama Rundi atau pendeskripsian pikiran-pikiran yang dilematis serta konflik dan suasana hati para tokoh. Bahkan, pendeskripsian untuk penegasan yang memberikan daya sentak kepada pembaca dalam suasana tertentu, terkadang justeru terasa lebih pas menggunakan bahasa Minang dari pada meamakai bahasa Indonesia. Cerita terasa menjadi lebih hidup sehingga membuat pembaca terdorong untuk terus mengikuti jalannya cerita.

Coba kita simak pendeskripsian galaunya tokoh Rundi di episode 1,
"Sabananyo Rundi indak sampai hati malukoi hati Siti Saijah nan alah mambarinyo duo buah hati, ciek bujang ciek padusi.

Tapi ba-a lah.

Saijah tipikal bini nan elok laku. Urangnyo indak banyak kandak bagai doh. Panyayang pulo ka laki. Santiang mauruih anak. Panuruik. Apopun kato laki, indak sakali alahnyo Ijah pernah mambantah. Inyo maiyo sajo. Acok bana kalua dari muluiknyo, takah iko: “ Nan ma nan kasanang dek uda sajolah, Ijah manuruik se nyo Da”.

Ba-a aka lai ko ha?"
Kemudian pada episode 2, juga dapat disimak pendeskripsian suasana hati Rundi sejak pertemuan tak terduga dengan Yanti, pacar semasa di es-em-pe dulu di taman Jam Gadang.

Kini Rundi seakan barado di posisi nan paliang sampik jo sulik. Cintonyo ka Yanti adolah sebuah keniscayaan. Samantaro Saijah adolah sebuah fakta. Faktanyo, Saijah adolah bininyo.Keniscayaannyo, Yanti adolah sosok nan indak pernah lanyok di hatinyo.

Gilo…..

Cinto Rundi kapado Yanti adolah cinto nan alun salasai. Nan masiah tabangkalai. Iko nan mambuek Rundi maraso sangaik badoso jo basalah gadang ka Saijah bininyo surang. Raso basalah ko sabananyo lah lamo tatanam di hatinyo.

Nan Saijah, indak adoh salahnyo doh. Nan salah tu perasaan Rundi surang. Nan salah tu Rundi…

Contoh pendeskripsian di atas menunjukkan, ternyata penulisan novel dengan menggunakan bahasa daerah (Minang), dari sisi pemahaman orang Minang tentu saja, mampu membuat cerita menjadi lebih hidup. Sebab pendeskripsian yang cukup detail sekali pun, terasa sangat mengena. Contoh pendeskripsian yang bersifat penegasan terhadap tokoh Rundi berikut ini.

"Atagfirullah ! Iko doso. Rundi tahu. Tapi, ba-a lah. "
Mengamati novel "Pacar Lamo" yang belum tuntas ini, patut kiranya kita berikan apresiasi kepada pengarang "Pinto Janir". Sebab bukan pekerjaan mudah bagi seorang pengarang atau sastrawan untuk mengekpresikan ide dan gagasan dalam sebuah cerita novel.

Menulis novel menuntut ketekunan dan keseriusan dalam mengekspresikan ide atau gagasan yang terkadang tak mengenal waktu. Apalagi sebuah roman atau novel merupakan cerita panjang yang terbangun berdasarkan alur cerita, yang terancang sedemikian rupa dalam imajinasi pengarang. Disamping imajinasi yang terkuras, pengarang harus pula memikirkan seting atau latar waktu dan tempat secara cermat, dimana novel ini menggunakan alur maju dan mundur. Sampai di sini, kita harus angkat topi kepada Pinto Janir.

"Pacar Lamo" telah membuka tabir penyakit sosial masyarakat melalui deskripsi dan dialog yang cukup menarik, akrab dengan suasana hati pembaca dan tentu saja sekali gus menikmatinya. Narasi-narasi yang berhasil terbangun dalam alur cerita menggunakan bahasa Minang, ini terasa karab bahkan familiar dengan pembaca.

Pacar Lamo adalah gambaran realitas sosial yang mengabaikan norma-norma sosial, dimana pengarang dengan gamblang mengungkap perilaku tokoh utama Rundi, betapa dirinya tak berdaya ketika secara tak terduga kalbunya tersentuh perasaan cinta lama. Buaian perasaan cinta masa lalu, telah memunculkan perilaku tak biasa dari keseharian Rundi. Kegalauan, perasaan berdosa terhadap istrinya Saijah yang lugu, kenekadan Rundy untuk menemui mantan kekasihnya Yanti, bahkan sempat tidur sekamar, berhasil disuguhkan pengarang dalam narasi yang cukup menghibur dan rekreatif.

Namanya bertemu pacar lamo secara tak sengaja, Rundi dan Yanti. Rundi seorang pedagang sukses dan telah membangun rumah tangga bahagia dengan sang isteri tercinta yang cantik, Saijah. Sedangkan Yanti, sang mantan pacar Rundi yang tak kalah cantiknya dibanding Saijah, ternyata telah ditinggal mati suaminya. Keduanya, setelah bertemu tak sengaja itu, sama-sama tak mampu menahan gelora cinta lama membara di dada. Berbagai masalah tentu saja akan muncul menyertai ketegangan yang berproses menjelang mencapai titik klimaks.

Novel ini secara keseluruhan, sampai episode 6 ini, terasa cukup menghibur dan kiranya pantas untuk dibaca, sekadar melepas ketegangan atau stress.

Namun, sebuah karya novel, tentu saja tidak lepas dari kekurangan. Saya yang tak pernah menulis novel, esai, apresiasi sastra dan apa lagi kritik sastra, juga bukan pekerjaan mudah menelisik kekurangan novel Pacar Lamo ini. Kecuali sekadar memberikan sumbang saran secara bebas kepada saudara muda Pinto Janir, tentu tak mengapa, demi, demi, demi apalah namanya, mumpung sebelum cerita ini tamat.

Pertama saya sangat menyayangkan dalam suguhan narasi novel ini sejauh yang kita amati, kurang diperkuat oleh dialog-dialog yang "bergizi" atau menampilkan dialog yang hidup. Bahkan lebih dominan deskripsi atau narasi, yang terkadang berulang-ulang, terutama dalam mendeskripsikan kegalauan, kerinduan, perasaan hiba dan sanubari tokoh utama yang dikuasai perasan cinta lama. Pada hal, pengarang memiliki kemampuan membangun dialog-dialog yang punya daya tarik kuat dengan menggunakan bahasa Minang.

Apalagi pengarang telah menampilkan sebuah plot rekreasi dalam seting dialog yang terjadi di atas bus NPM. Inilah dialog yang menurut saya, cukup baik dan bergizi sepanjang yang saya amati. Perhatikan cuplikan di bawah ini, saat siswa SMP pergi menonton film Titanic ke Padang.

"Manjalang sampai di Padang, Rundi jo Yanti bacarito-carito soal masa depan.
“Yanti, kalau nanti awak bajodoh, Rundi akan buek an Yanti rumah nan catnyo warna biru !”
“Indak. Yanti indak suko warna biru. Yanti suko warna putih !
“ Yanti Rundi buek an rumah di tangah sawah !”
“Indak.Yanti indak suko.Yanti suko rumah nan pemandangannyo adoh lembah dan gunung !”
“Yanti, Rundi buek an rumah nan gadang !”
“Indak. Yanti indak suko. Nan Yanti suko rumah nan ketek tapi halamannyo gadang”.
Selalu jawaban Yanti, indak suko se taruih. Paneh hati Rundi nyo bantai batanyo lai.
“Jadi apo nan Yanti suko?”

Ditanyo takah itu, bola mata Yanti nan taduah mamandang lamo ka mato Rundi. Dipandang dengan pandangan yang begitu, mambuek jantuang hati Rundi bantuak tatikam-tikam sayang.

“Apo nan Yanti suko?”
Jo senyum paliang lunak Yanti manjawek.
“Nan Yanti suko adolah, Rundi selalu adoh dakek Yanti salamonyo!”
Tahaniang Rundi.Tapi tangannyo indak diam. Agak kreatif snek. Nyo ganggam tangan Yanti jo caro tasuruak-suruak supayo jan tampak dek apak nan duduak di subarang kurisi tu ha. Gaek ko jak tadi memperhatikan mereka sajo. Mungkin gaek ko taingek pulo mah jo kisah maso mudo e, ndak?

Sudah tu Rundi babisiak lambek-lambek. Babarapo halai rambuik Yanti kanai dihiduang Rundi karano kaco jandela oto ko tabukak sangenek. Wangi rambuik e nan takah iko nan barusan tahidu dek Rundi tadi. Aroma Yanti tu adoh dalam pangana Rundi. Aroma tu indak barubah sampai kini."


Sayangnya pengarang sepertinya kurang jeli memanfaatkan kesempatan plot rekreasi dengan menampilkan dialog-dialog yang mampu membangun cerita ini lebih hidup, kecuali dialog di atas bus NPM. Bahkan ketika seting di rumah neneknya di Padang, juga merupakan kesempatan bagi pengarang untuk membangun dialog-dialog yang menarik di tengah-tengah keluarga Yanti yang di Padang.

Kemudian perwatakan para tokoh kurang dalam (detail) terutama tokoh Rundi yang masih menimbulkan pertanyaan, ketika adegan di rumah Yanti pagi Subuh, mengapa tiba-tiba Rundi bergegas berangkat ke Bukittinggi. Seakan-akan gemuruh cinta lama di dalam dada bisa pupus sekita, seperti antara Rundi dan Yanti berpisah pagi itu seperti berpisahnya dua saudara biasa.

Demikian saja yang bisa saya sampaikan, dan saya sangat menyadari, tulisan ini jauh dari kesempurnaan dilihat dari perspektif apresiasi sastra atas karya novel Pinto Janir. Mohon maaf jika banyak kata atau kalimat tidak pada tempatnya. Namun demikian, jika ada manfaatnya Alhamdulillah.

Catatan:

Saya pribadi mengenal Pinto Janir sejak dekade 90-an, justeru melalui tulisannya di koran Mingguan Canang. Saya tahu saat itu, dia adalah pengasuh semacam Rubrik Remaja di koran Mingguan terlaris kala itu di Sumatera Barat. Maka dari gaya bahasanya yang "urakan" seperti gayanya Pinto Janir sampai sekarang, atau "bahasa gaul" istilah remaja sekarang…ia menjadi pengarang yang memikat !