POTRET USANG, RUH, JIWA DAN KENANGAN (Catatan Pinto Janir)

Iklan Semua Halaman


Header Menu

POTRET USANG, RUH, JIWA DAN KENANGAN (Catatan Pinto Janir)

Redaksi
Selasa, 19 Mei 2020
                                                     


Tak ada potret yang terlalu usang untuk dikenang. Memutar waktu ke belakang, bagi saya bukan sekedar untuk bertandang ke masa lalu. Ia bagi saya adalah energi untuk mengundang segala ingatan akan peristiwa apa yang terjadi ketika saya sedang berpoto ini.



Ingatan masa lalu yang terkumpul adalah pelajaran yang tidak pernah tumpul.



Jiwa kita ini sekali waktu perlu pergi rekreasi. Kalau rekreasi "raga" adalah rekreasi di masa kini. Rekreasi jiwa tidak begitu. Rekreasi jiwa dapat pergi ke ruang waktu mana saja yang ia suka.



"Objek Wisata" yang paling digemari jiwa adalah "mimpi".



Kalau jiwa berekreasi ke ruang waktu yang sudah tertimbun, maka yang ia usai adalah "perbuatan" dan "kejadian". Hanya jiwa yang dapat memutar waktu ke masa lalu. Raga; tidak! Dan tidak akan pernah bisa. Tapi, rekreasi jiwa ke masa lalu adalah "hiburan" bagi raga.



Kadangkala, mimpi adalah media bagi jiwa untuk mengingatkan "sahabatnya" yakni raga. Jiwa tak ingin bila raga "celaka". Banyak raga yang tidak sadar betapa kasih dan sayangnya jiwa pada sebatang raga.



Sering jiwa lebih dahulu menghantarkan raga ke masa depan, karena jiwa bisa mendahului waktu.



Apa contohnya? Ini pengalaman "spiritual" saya atau barangkali juga pernah anda rasakan.



Suatu kali, ketika berada pada sebuah tempat yang baru, acap kali kita merasa sudah pernah pergi ke tempat ini sebelumnya. Dengan tepat kita bisa menunjukkan suatu ruang. Ada ini. Ada itu. Kemudian tak jauh, ada sungai...ada dll. Seperti sudah pernah berkunjung ke tempat yang sebenarnya belum pernah dikunjungi. Tapi bila? Ternyata, pernah bermimpi kemari!



Jiwa tak mau badannya celaka. Namun, seringkali "kita" tak arif pada peringatan jiwa. Inilah mungkin apa yang disebut dengan "firasat". Maqam jiwa itu di nurani. Stasiun "pemancarnya" di hati. Namun, acap kita mengingkari kata hati. Di sanalah acap terjadi "kecelakaan" diri.



Menjadi "manusianya" kita karena “ruh” melekat ke raga di atas dunia. Ruh yang bertemu jasad, ia menjadi “jiwa” dan menjadi manusia. Menjaga ruh tetap suci adalah dengan cara terus “beribadah kepadaNya”. Karena hakaket hidup di dunia ini hanya satu; yakni beribadah.



Ruh yang “terjaga” kesuciannya akan memperkuat jiwa. Jiwa yang kuat adalah "pemimpin" bagi raga. Kecelakaan hidup manusia karena acap dan membiarkan "raga" menjadi pemimpin.



Membiarkan tangan menjangkau tanpa manfaat.Membiarkan mata melihat tanpa berguna. Membiarkan kaki melangkah dengan percuma.Membiarkan telinga terbuka tanpa saringan. Membiarkan mulut berkata-kata tanpa kejelasan.



Pada akhirnya, pertanggung-jawaban itu terpikul di pundak sang jiwa. Badan yang berbuat, jiwa yang menanggung ragam.



Kita tidak tahu, karena kita belum pernah mengalaminya. Apakah ketika terjadi perpisahan terakhir antara jiwa dan raga antara ruh dan jasad, salam penghabisan apa yang akan diucapkan jiwa? Apakah jiwa akan menangis melihat batang tubuh raga yang menjadi bangkai?



Apakah ruh akan menyesal karena pernah menjadi manusia di atas dunia, ataukah sebaliknya, di mana ruh merasa bahagia dan berterimakasih kepada raga yang telah mengantarkannya ke alam selanjutnya, di alam mana penuh kebahagiaan kekal.



Tapi kita tak usah cemas. Supaya tak terjajar ke ruang "derita maha dahsyat" Tuhan kita telah membekali kita dengan otak untuk berpikir dan hati untuk merasakan.



Namun, acap kali kita sering tergoda dan tergiur karena "keinginan-keinginan" yang mengalahkan kebutuhan. Akibatnya, derita kita anggap taman bunga. penjara kita anggap istana.



Pendapat saya, jiwa (ruh) mengandung banyak "rahasia".




Terkadang kita memang sering kacau dalam mengartikan apa itu ruh, apa itu jiwa. Sering kita cenderung salah mengartikan antara jiwa dan ruh. Kata jiwa dalam Qur’an adalah al-nafs, dan ruh dalam Qur’an adalah alrūh. Menurut Ibn Qayyim al-Jauziyah ruh dan jiwa adalah satu substansi yang sama.



Yang membedakannya adalah sifatnya. Ruh bersifat lāhūtiyah (ketuhanan) dan jiwa bersifat nāsūtiyah (kemanusiaan).



Jiwa adalah gabungan antara ruh dan jasad sehingga bisa mendapatkan penghidupan. Ini i sesuai dengan QS al-Imrān: 185 kullu nafs dhāiqāt al-maūt, yang mana seseorang yang berjiwa atau mempunyai nafs (yaitu gabungan antara jasad dan ruh), maka ia akan menemui kematian.



Kata al-Rūh dalam al-Qur’an disebutkan sebanyak 24 kali, masing-masing terdapat dalam 19 surat yang tersebar dalam 21 ayat.



Aduh, tak tahan saya untuk melanjutkan tulisan ini. Karena saya rasa, ketika saya berupaya terus mengkaji tentang ruh, saya lelah !



Tiba-tiba meluncur diksi di kepala saya; jiwa sementara, ruh selamanya !



Kemudian ada diksi yang menggantung di awang-awang seperti pesan dari pikiran.



Satu lagi yang terpikir oleh saya, Ada kekuatan yang tak tertandingi, yakni adalh kekuatan otak yang melahirkan pikiran. Saya yakin, kita manusia belum maksimal menggunakan "kekuatan" pikiran...Apakah karena kunci belum bertemu?



Paling banyak, sekuat-kuatnya otak manusia, menurut rasa-rasa saya....kita hanya baru mampu menggunakannya mungkin hanya baru seperempatnya saja....



Tak terbayangkan bila sekiranya kita bertemu "kunci" itu !


Bukittinggi 19052020