Sakralisasi Dimensi Alam dalam 3 Puisi Pinto Janir

Iklan Semua Halaman


Header Menu

Sakralisasi Dimensi Alam dalam 3 Puisi Pinto Janir

Redaksi
Minggu, 08 Desember 2019

Oleh Refdinal Muzan*)

PINTO JANIR, seorang seniman multi talenta yang dimiliki Sumatera Barat. Sejak era 80-an hingga sekarang beberapa karyanya masih mengisi ruang dan sudut galeri sastra, seni pertunjukan, musik dan jurnalistik di tanah air.

Nampaknya darah seni begitu pekat mengalir di tiap aliran denyut dan nadi. Hingga kepeduliannya dan berkarya tak hanya sekadar mengekspos eksistensi agar benderanya semakin berkibar dan tak tergantikan. Atau orang akan selalu mengelukannya sebagai sejarah dan atau warna yang abadi. Jauh dari apa yang terbayangkan bila ditilik dari penampilannya yang rada unik, misterius dan sedikit cuek, ternyata Pinto Janir memiliki sensitivitas yang sangat peduli untuk sebuah kebersamaan.

Benar, dari apa yang tertoreh di penghujung tahun 2013, dia begitu intens mengangkat sebuah acara yang cukup fenomenal dengan tajuk “Konser Puisi Akulah Sang Raja dan didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Wilayah Sumatera Barat dengan Koordinator Denni Meilizon di Teater Utama Taman Budaya Padang. Sederet nama berbaur menjadi satu dalam konser puisi tersebut yang didukung oleh musik tradisi dari grup Indojati pimpinan Papi Monon dan ilustrasi pantomim dari Komunitas Seni Nan Tumpah pimpinan Mahatma Muhammad. Sederet nama berbaur bagai sebuah biduk yang mengombang mencapai sebuah ujung di tepian. Sebagai penumpang, kita tidak pernah mengenal kasta, warna dan rupa. Tua muda, senior yunior menyatu dan sepakat berlayar atas sebuah tujuan.
Ada penyair legendaris Leon Agusta, pembaca puisi terbaik Nasional Armen Sufhasril, Sulaiman Juned, Murdok Surya, Alizar Tanjung, Syarifuddin Arifin, pemuka teater Rizal Tanjung, budayawan Emral Djamal, penggiat komunitas FAM Sumatera Barat Denni Meilizon, Befaldo Angga, Refdinal Muzan, Muhammad Fadhli, Amika An, Hasan Asyhari, Arif Hidayatullah, Desri Erniza dan Irwan Hasan. Tak ketinggalan Ketua Umum FAM Indonesia Muhammad Subhan yang memberi orasi juga membacakan puisi.

Ah, seperti baru kemaren menyaksikan pertunjukan yang fenomenal itu. Begitu berkesan dengan segala aksi panggung semua pengisi acara; harmoni, puisi, teater, musik dan aksi-aksi panggung lainnya yang memukau. Lalu, seberapa pantas “Sang Raja” menobatkan mahkotanya? Tentu kita tak akan mengukur di singasana mana ia bertahta, pada rakyat mana ia berkuasa dan pada negeri mana namanya menjadi utama. Itu mungkin tak akan begitu penting menyisiri risalah sebuah silsilah atau memperdebatkan selaksa senjata dan kata-kata yang mampu menopang “keberadaan” Pinto Janir. Hanya pada nurani dan beningnya kaca dalam diri untuk melihat dan menerjemahkan sebuah arti. Saya tidak akan memperdebatkan soal kata “Raja” itu. Tapi saya mencoba mengenal Pinto Janir lebih dekat dari 3 puisinya yang saya baca:

KAU, AKU DAN MATAHARI

panas matahari menyembilu
kirimkan kabar garang
panggang hati panggang jantung panggang
jiwa sayang aku meriang!
Kupandang-pandang langit siang
pada terang angin kencang
ngilu-ngilu kuku tiup luka mengawang

Sebelum langit tanpa bayang
kusandang luka kubawa pulang aku hilang!
Tak kusurukkan segala aku
Tak perlu kau tahu apalagi ragu
Di sudut lenyap aku membatu
kuhitung langkahmu satu satu
kau kukenang pembunuh waktu

segala tempo telah aku belenggu untukmu.
ruang ini aku rantai
kuserakkan bunga di lantai
tanpa dawai
tanpa gerak, kusut masai
aku dan kau melantai
sekalipun retak pecah berderai-derai
tahan saja dulu segala sangsai
dalam entah tak bagus saling melambai?
Di panas matahari bayangmu
kuteduhkan dengan segala rindu
kau itu aku
aku ada kita dekat!
Dekat nafasku;
kau!

Sekilas puisi ini seperti hanya mengutamakan permainan rima di tiap baitnya. Tapi tentu bukan tidak beralasan sang penyair menata permainan bunyi dalam puisi ini. Apakah seperti kredo Sutardji Coulzom Bahri yang mengatakan bahwa kata-kata bukanlah alat mengantarkan pengertian. Dia bukan seperti pipa yang menyalurkan air. Kata adalah pengertian itu sendiri. Dia bebas.

 Kalau diumpamakan dengan kursi, kata adalah kursi itu sendiri dan bukan alat untuk duduk. Kalau diumpamakan dengan pisau, dia adalah pisau itu sendiri dan bukan alat untuk memotong atau menikam. Bila pada akhirnya Sutardji pernah mengklaim kata-kata adalah mantra, mungkin dalam puisi Pinto Janir ini kita akan merasakan sedikit nuansa seperti itu.

Dalam sebuah ulasan media online yang saya baca penyair ini pernah diprediketkan sebagai sufistik. Lalu apakah jiwa yang termaktub dalam puisi ini juga sebagai salah satu manifestasi penulis terhadap sisi ketuhanannya?

Di panas matahari bayangmu
kuteduhkan dengan segala rindu
kau itu aku
aku ada kita dekat!
Dekat nafasku;
kau!

Jelas sekali sentuhan yang menuju pada Sang Maha Kalam dalam bait ini. Asarpin pernah menuliskan bahwa “Jika Allah adalah Maha Indah, maka sudah barang tentu firmannya juga indah.” Kata Alqur’an sendiri berarti bacaan, bacaan yang indah. Untuk mendekati Alqur’an yang indah disyaratkan dengan pendekatan yang mampu menguak tabir keindahannya. Dan ini sangat mungkin dilakukan dengan kajian sastra yang memang sangat apresiatif terhadap bahasa dan seni keindahan.

Dengan kata lain, “mendekati” yang Maha Indah yang telah melahirkan firman yang sangat indah (Alqur’an), sangat logis dengan yang juga indah (puisi). Manusia tak akan mampu “berjumpa” dengan yang Maha Indah dalam kondisi yang tidak indah atau kotor, karena itu untuk “menjumpai” yang Maha Indah dibutuhkan seperangkat alat yang indah—atau minimal yang menghargai keindahan.

NYANYIAN PUTIK RIMBA KELAM

semalam, ada putik jatuh ditiup angin lalu
hanyutnya hanyut diguyur hujan tak dikenal
musim tiba merenggut tangkai sebelum sampai
dalam kabut tipis ngiang tangis berderai
ratapan sepi kemana rimba dicari
hutan kelam tak rimbun, pohonnya pun hilang daun
mengapa tak tersibak kabut oleh mentari
apakah ini bayang-bayang atau diri?
Usah tanya kemana putik hendak pergi
hanyutnya hanyut sendiri di hutan karam
bukankah sendiri, nyanyian paling abadi
sunyinya sunyi bukan sunyinya sepi,
gelapnya gelap bukan gelapnya kelam
suluh hati kan jadi matahari sendiri
biar batang tenggelam diam diam
ada yang bangkit;
kepastian!

Sebagai putra Ranah Minang penyair yang multi talenta ini cukup kental mengiaskan kata-kata pada alam. Seperti pepatah yang mendarahdaging di tanah ini “alam takambang jadi guru”. Nyanyian Putik Rimba Kelam, sebuah puisi yang sarat menyimpan makna akan itu.

Apakah sebuah sakralisasi juga membawa kita menghayati denyut makna dalam puisi ini? Tentu, dan akan selalu kita dibawanya menuju pada demensi ruang dan alam yang menghakikat arti. Sebuah putik bisa saja luruh sebelum ia mampu memberikan sesuatu atas nama sebuah hadir, lahir, dan pencapaian akhir. Terlepas dan sendiri, mungkin sebuah perenungan yang cukup apik ketika membaca sebuah tanda sebuah makna yang hanya bisa teruntai dalam diri seorang penata kata yang senantiasa dengan bahasa jiwa.

MUNGKINKAH DEBU MENYUNGKUP RINDU?

kusisir awan kapas di langit biru
segelas rindu sembilu sayapku angin membatu tersenyum ngilu
keras kenangan tanpa bayangmu
cukamlah langit cukamlah rasa
langit jiwa menghamburkan kata
tersangkut tajam di awang sukma
luka rantak di atas pecahan kaca
tintaku seujung kuku
mana mungkin kuwarnai kamu
cintaku noda di saku
kau kanvas hidupku membelenggu
lupa membingkai kugantung sendu
berlapis waktu mengundang debu
mungkin debu menyungkup rindu
kubiarkankah lukisan digulung waktu?

Sebuah intropeksi diri kerap lahir dengan atau tanpa disadari ketika para perangkai kata bicara dan menggali dengan sukmanya. Tak akan ada kepalsuan kata-kata saat ia terbersit dari dalam lubuk hati, jiwa, dan beningnya sukma. Bukankah sebuah jembatan yang tak pernah ingkar menghubungkan kita dengan sang Maha Pencipta. Maka saya setuju ketika seorang teman pernah mengatakan pada saya bahwa Dalam Tuhan ada Puisi, dalam Puisi ada Tuhan. Ternyata intuisi yang mengalir atas sebuah inspirasi akan melahirkan sebuah “bayi” yang tentunya akan ditiupkan “roh” dari Sang Maha menghidupkan itu sendiri.

Puisi yang baik bagaimana pun terkait dengan masalah imajinasi. Dan imajinasi merupakan sebuah dunia, tempat para penyair dan sufi menemukan kenikmatan “bercakap-cakap” dengan Tuhan. Menurut Haidar Baqir suatu kali: langkah yang ditempuh kebanyakan kaum sufi, memang sering dihadapkan pada dua tantangan serius dalam setiap kurun: pertama, bahasa pada dirinya sendiri adalah media yang memiliki keterbatasan untuk mengungkapkan pencitraan secara verbal. Bahasa tidak mungkin mampu menggambarkan secara paripurna realitas imajiner yang berlangsung dalam kerja mental sang penyair. Sama halnya dengan keterbatasan cat atau warna dalam mewujudkan pencitraan realitas di atas kanvas. Puisi dan lukisan bukanlah wujud dari imajinasi itu sendiri, ia merupakan ‘turunan’, proses konstruksi, dari aktivitas mental yang imajinatif dengan kata dan warna sebagai alat utamanya.
Pinto Janir sepertinya tidak akan pernah mengenal kata henti dalam sebuah proses pencarian, penumbuhkembangan, kretivitas, dan penetralisir ketimpangan dalam pemunculan warna-warna baru, wajah-wajah baru, dan nama-nama baru. Tumbuh berkembang dan saling membesarkan, begitu sebuah prinsip yang pernah saya dengar saat bertemu dengannya. Semoga iktikad yang begitu tulus akan mendapat dukungan dari para penggiat literasi, penggiat seni dan sastra di tanah air ini. []

*) Refdinal Muzan, penyair, dan guru SMP Negeri 1 Sungai Pua, Kabupaten Agam. Menulis beberapa buku puisi.

Sumber:

KORAN HARIAN “RAKYAT SUMBAR” EDISI SABTU, 18 JANUARI 2014