PKB Sumbar Membesar Bintang Febby Bersinar

Iklan Semua Halaman


Header Menu

PKB Sumbar Membesar Bintang Febby Bersinar

Redaksi
Sabtu, 07 Desember 2019

Catatan: Pinto Janir ( jurnalis & budayawan)

Hidup bukan semata soal pertarungan dan pertaruhan nasib. Bicara soal nasib, muaranya kalau tak bertakdir baik, ya takdir buruk. Sori, hidup bukan pula hanya soal nyali. Betapa banyak orang yang bernyali tanpa perhitungan yang pada akhirnya bernasib malang di jalan kehidupan dalam genangan darah di altar kecelakaan hidup yang ngilu. Hidup cerdas adalah ‘makrifat’. Jalannya lapang. Pikirannya terang. Hatinya ‘tetap’. Ia lapisan pikiran dalam kecepatan terukur pada perhitungan yang tepat yang melahirkan keyakinan untuk mewujudkan apa yang terpikirkan.

Kumpulan kata pada paragraf di atas adalah biografi satu alinea yang saya susun menjadi abstraksi aksara mengamati ‘jalan’ hidup H.Febby Datuk Bangso di zona politik kehidupan kita.

Saya mengenal insan Febby beberapa tahun yang silam ketika saya menjadi staf khusus Pak Muslim Kasim ( sewaktu menjadi bupati di Padangpariaman) di bidang sosial, budaya dan media. Pada suatu malam, kami — Pak Muslim Kasim (alm), saya dan Febby bercakap-cakap ketika mana saya sedang khusuk-khusuknya mengembangkan bisnis media massa. Selepas sebuah percakapan di bawah siraman langit berbintang berbulan terang itu, di ujung kata penghabisan di tabik sebuah salam , Pak Muslim berbisik pada saya : “ Kamanakan….”, begitu Pak Muslim memanggil saya;” Febby itu anak muda cerdas. Visi hidup dan visi politiknya jelas. Yakin awak, ia suatu saat nanti akan menjadi ‘bintang’ di panggung politik kita. Yakinlah kamanakan, ia akan mampu membawa PKB menjadi partai yang diperhitungkan di Sumatera Barat kelak!” .

( Tunggu sebentar, saya sela tulisan ini dulu. Bertahun kemudian, sekitar 40 hari menjelang Pak Muslim dipanggil Ilahi, saya dan Febby Datuk Bangso mengunjungi beliau di rumahnya di Pamulang Jakarta. Masa itu adalah masa-masa berhitung bulannya pasangan Muslim Kasim dan Fauzi Bahar kalah dalam pertarungan Pilkada Sumbar yang dimenangkan pasangan Irwan Prayitno dan Nasrul Abit. Kami mendatangi beliau karena mendapat kabar kalau Pak Muslim sedang sakit. Malam itu, kami bercakap bertiga seperti malam-malam bertahun silam. Ada sekitar dua jam lebih kami mahota-hota asik. Wajah Pak Muslim sangat bahagia. Saat itulah Febby menawarkan kepada Pak Muslim untuk siap menjadi calon anggota DPR RI dari PKB. Pak Muslim menyetujuinya dengan muka yang sangat cerah )

Ayo, kita lanjutkan lagi narasi alinea ketiga.

Febby Datuk Bangso mencatatkan sejarah. Ia penoreh sejarah dalam tinta politik lokal kita. Febby tercatat sebagai ketua partai politik termuda di pelataran ketua partai politik untuk kelas wilayah.

Bagi sebagian besar orang Sumatera Barat, PKB dianggap sebagai partainya “orang seberang”. Dianggap sebagai partai yang tak akan mungkin mendapat suara di ranah Minang. Dianggap sebagai partai yang benar-benar nyaris tak dianggap.

Apalagi, semasa tahun pertama Febby menjadi Ketua DPW PKB Sumbar, hitungan suara PKB di Sumbar amat “minus”. Kursi PKB di DPRD kota dan kabupaten di Sumbar boleh dikatakan “daripada tidak”.

Melihat kondisi terdahulu itu, apakah Febby patah hati membangun pikiran PKB di Sumbar?
Tidak !

Benar kata Pak Muslim Kasim, Febby itu gigih. Febby itu pemberi ruang. Febby itu suka membukakan jalan bagi sukses untuk orang lain. Tipe Febby, menurut Pak Muslim adalah tipikal ‘membantu dengan kesungguhan’ dan berbuat dengan keseriusan, berlaku dengan keyakinan.

Bagi saya, sejauh saya mengamati dan mengetahui, Febby itu memang “ahli”. Ia ahli membesarkan “orang lain” . Ia ahli membesarkan “pikiran kebajikan” dan ia ahli “meyakinkan” orang lain untuk sebuah idiologi di ruang kesejukan nafas kehidupan.

Apa yang dilakukan Febby untuk mengembangkan dan membangun “pikiran” PKB supaya lengket di hati masyarakat Sumatera Barat?

Adat ‘seniman’ pikiran adalah mengukir riwayat. Kebahagiaannya adalah ketika “mampu melayani” dan menyenangkan hati banyak orang. Febby, itu mirip-mirip begitu.

Ia rela-rela saja bila waktu dan pikiran serta tenaga, bahkan materinya ia korbankan demi sebuah maksud kebaikan. Kebahagiaan seorang Febby, tampaknya di situ, bila mana ia dapat “membangun jalan baru” dan bila mana ia dapat melapangkan jalan orang lalu dan bilamana ia dapat mengantarkan seseorang menjadi sesuatu yang lebih berarti, maka di situlah jalan senang hatinya seorang Febby.

Febby sangat pintar menciptakan kader. Walaupun Febby membangun PKB dengan “kelembutan” tapi ia adalah sosok yang berdisiplin jika menyangkut organisasi dan kepartaian.

Mencapai kepuasan immaterial yang mendorong naluri Febby untuk terus bergerak.

Febby dan pikirannya adalah perjalanan menembus ruang.

Febby mulai berpikir dan mencari benang merah antara NU-PKB dan Minangkabau. Febby seorang pembaca. Febby mencari “hulu” dan Febby melihat “muara”.

Ia mulai menyampaikan dan menulis serta mengabarkan kepada khalayak Sumatera Barat tentang seorang ulama besar asal Minangkabau yakni Syaikh Ahmad Khathib Al-Minangkabawi . Al-Minangkabawi adalah guru dari Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah dan guru bagi Hasyim Asyari, pendiri Nahdlatul Ulama (NU) .

Lahirnya PKB adalah karena kesepakatan ulama NU. Notabenenya, PKB adalah partai yang dilahirkan oleh NU.

Karena pendiri NU berguru kepada Alminangkabawi, maka Febby memberi kabar kepada masyarakat Sumbar bahwa akar pikiran PKB tak bisa dilepaskan dari ranah Minangkabau.

Kita tahu, PKB dikenal dengan gerakan menjaga dan merawat tradisi. Dan itu berkesesuain dengan “Adat Basandi Syarak-syarak basandi Kitabullah”. Minangkabau nagari beradat, sedangkan PKB adalah partai “menjaga dan merawat” kelestarian adat dan budaya.

Salah satu mabda siyasi PKB adalah: Partai Kebangkitan Bangsa bercirikan humanisme religius (insaniyah diniyah), amat peduli dengan nilai-nilai kemanusiaan yang agamis, yang berwawasan kebangsaan. Menjaga dan melestarikan tradisi yang baik serta mengambil hal-hal yang baru yang lebih baik untuk ditradisikan menjadi corak perjuangan yang ditempuh dengan cara-cara yang santun dan akhlak karimah. Partai adalah ladang persemaian untuk mewujudkan masyarakat beradab yang dicitakan, serta menjadi sarana dan wahana sekaligus sebagai wadah kaderisasi kepemimpinan bangsa.

PKB partai yang selalu berkaca dan bercermin pada laku “rahmatan lil alamin” nan senantiasa memberikan kebaikan dan kebajikan bagi insan semesta alam.

Mabda siyasi PKB sangat berkesesuaian dengan filosofi alam Minangkabau. Adat nan tak lekang dek panas dak lapuk dek hujan. Secara prinsip orang Minangkabau memiliki tuntunan yang bernama masyarakat nan sakato. Artinya setiap individu harus menghormati tatanan masyarakat agar tercipta kerukunan satu dengan yang lain. Dalam Masyarakat Nan Sakato, orang Minangkabau harus mematuhi segala aturan, menghormati perbedaan pendapat, dan juga mendahulukan kepentingan umum yang memberikan kebaikan kepada semua orang.

Filosofi Minangkabau dan mabda siyasi PKB sangat harmonis dengan filsafat kehidupan orang Minang.

Dan Febby menyuarakan ini. Mengabarkan ini.

Untuk membesarkan PKB. Untuk menitipkan PKB di ngiang hati dan pikiran, Febby total dan berkesungguhan untuk maju menjadi calon anggota DPR RI dapil Sumbar 2. Ia selalu mengutamakan partai. Sambil sosialisasi untuk diri sendiri, yang lebih diutmakan Febby adalah sosialisasi partai bagi khalayak ramai Sumatera Barat.

Ia membangun citra partai dengan sangat cerdas dan sekaligus membina dan melahirkan kader-kader PKB yang militan di Sumatera Barat.

Febby sempat dicimeeh khlayak ketika ia menyatakan diri maju menjadi calon walikota Bukittinggi di saat mana PKB hanya memiliki 1 kursi di DPRD kota Bukittinggi. Banyak orang menyatakan tak yakin, jika Febby akan berhasil menjadi calon walikota dengan 1 kursi PKB.
“ Dalam hidup tak ada yang tak mungkin bila berlandaskan keyakinan dan kesungguhan berikhtiar “, kata Febby menanggapi cimeeh publik politik.

Alhasil, walau PKB hanya 1 kursi, Febby melaju dan ditetapkan menjadi calon walikota. Kita tahu, tujuan Febby maju jadi walikota bukan untuk “mengutamakan” menang tapi adalah untuk “gezah” PKB di Sumatera Barat. Adalah untuk “kampanye” PKB di ranah ini.

Dan di tangan dingin Febby, PKB berhasil mengantarkan kadernya menjadi wakil Bupati Kabupaten 50 Kota, yakni buya Ferizal Ridwan.

Hebat. Dari pileg ke pileg, perolehan kursi PKB senantiasa meningkat signifikan.
Pada Pileg yang baru lalu, Febby kembali maju jadi calon anggota DPR RI dapil Sumbar 2.

Kala itu, situasi politik Sumatera Barat –saya menyebutnya—sedang “aneh”. Hoaks dan isu-isu buruk berseleweran menghantam kubu Jokowi-Maaruf. Bahkan, sudah menjadi rahasia umum, partai-partai pro Jokowi disudutkan. “Jangan pilih partai ini-itu…ia pro Jokowi”.

PKB adalah partai militan pendukung Jokowi.

Pada pileg yang baru lalu, Febby memang belum berhasil terhantar ke Senayan. Situasi saat itu memang sangat sulit mengantarkan sosok dari partai pendukung Jokowi.

Febby menyadari ini.

Ia menggeser strategi. Strategi Febby bukan berkampanye untuk diri. Febby berkampanye untuk PKB secara keseluruhan. Ia masuk ke berbagai pelosok nagari di Sumatera Barat. Ia mengabarkan tentang PKB ke mana-mana.

Ketika orang lain sibuk “membunuh” suara Febby—karena isu pendukung Jokowi—Febby justru menggeser strategi dengan sibuk membangun suara untuk PKB. Ia abaikan diri sendiri, ia utamakan perolehan suara partai.

Pribadi Febby adalah pribadi yang senantiasa bercermin pada pepatah arab yang akrab di kalangan para santri yakni “Man Jadda WaJada” yang artinya “Barangsiapa bersungguh-sungguh pasti akan mendapatkan hasil, ”. Febby yakin dengan “Where there is a will there is a way !” .Ia istiqomah dengan “Dimana ada kemauan, pasti disitu ada Jalan “.

Prinsip hidupnya; “ Tidak ada hal yang sulit jika kita melaksanakannya dengan segala kesungguhan dan ketulusan !”

Hasilnya tak sia-sia.

Pada Pileg yang baru lalu itu, sekalipun Febby gagal menuju Senayan namun ia mengantarkan banyak kadernya meraih kursi di DPRD kota dan kabupaten serta propinsi.

Perolehan suara PKB meningkat tajam, menjadi 28 kursi untuk DPRD Kota,kabupaten dan propinsi.

Kenaikan untuk propinsi adalah 300% dari 1 kursi menjadi 3 kursi PKB di DPRD Sumbar.
Hebat.

FEBBY, SAYA DAN PKB

Saya seorang seniman. Latar belakang saya jurnalis,musisi dan sastrawan. Saya melihat PKB dengan mengamati mabda siyasinya. Saya melihat dan saya membaca serta saya merasakan. Mabda siyasi PKB harmonis dengan “pikiran kebudayaan” saya.

Saya dan Febby sering berdiskusi soal seni, sastra dan budaya. Sosok Febby yang membuat saya lebih mengenal PKB dan NU. Saya menjadi PKB karena Febby. Sampai akhirnya PKB memercayai saya menjadi salah seorang Wakil Ketua DPW PKB Sumbar.Pada tahun ini di musim Pilkada, PKB mengusulkan saya menjadi salah seorang Wakil Ketua Desk Pilkada Provinsi Sumbar.

Harapan saya, semoga pikiran Febby untuk ‘membumikan PKB” di ranah Minangkabau terwujud dan dengan demikian nilai-nilai adat dan tradisi tetap lestari.

Salam kebangsaan: Pinto Janir