Pikiran Sampah dan Idealisme

Iklan Semua Halaman


Header Menu

Pikiran Sampah dan Idealisme

Redaksi
Minggu, 08 Desember 2019

// catatan Pinto Janir

Orang bijaksana adalah orang yang pikirannya diterima oleh segala ruang dan segala waktu. Bukan orang yang maunya menang sendiri, merasa pintar sendiri, merasa hebat sendiri dan merasa menjadi konsultan atas diri sendiri dan lingkungan. Hati-hati membidani pikiran untuk diri sendiri dan untuk orang lain. 

Karena pikiran nan terpikirkan di hati adalah doa! Kekuatan pikiran sekuat mantra kalau ia berpondasi pada pengetahuan, kepercayaan dan keyakinan.

Lalu kita bertanya pada diri sendiri, idealisme itu apa?

Apakah sampah pikiran atau taman bunga di dalam jiwa?

Kemudian saya memandang bulan hingga lenyap berganti matahari. Apakah alam semesta juga mempunyai idealisme sehingga sesuatu tampak sangat sistimatis?

Ketika kita melihat rumput, lalu dia bergoyang di angin berkisa, apakah itu karena idealisme angin? Atau barangkali saya yang telah kacau memaknai idealisme sehingga hati saya terkadang terus mengolah jawaban sampai bertemu dengan jawaban yang menurut saya mendekati ideal.

Kalau kajiannya "menurut" apakah idealisme itu persepsi?

Mungkin rumpunnya ini juga.

Tapi tunggu dulu.

Lalu, ideal. Ideal yang bagaimana?

Apakah ideal yang hanya menurut kehendak keinginan kita saja atau kehendak kebutuhan?

Bila bicara keinginan, terkadang ia melemparkan realis.

Ya realisme? Tajam itu!

Pasti berhubungan dengan logika. Lalu, idealisme dengan apa? Saya rasa dengan pikiran dan keinginan-keinginan yang membatu, sehingga ia kukuh seperti tak terasak. Bila begitu, apakah idealisme sesuatu yang "keras”?

Ya, apapun produk yang terlahir dari pikiran, ia terlempar dari ruang materi. Pendapat saya, produk pikiran membangun materi ‘baru’.

Bila begitu, apakah idealisme adalah kajian jiwa, kajian spiritual, atau kajian ruh? Atau kajian bawah sadar? Begitukah?

Saya rasa, memang begitu. Minimal menurut idealisme pikiran saya bahwa idealisme itu adalah alam jiwa di taman alam bawah sadar yang bisa merealita.

Dan ini benar yang mengingatkan saya pada seorang Plato dan segala pikirannya. Pada pemikiran Plato yang mengazab materialisme dengan idealisme dan pikiran Plato, begitulah!

Juga mengingatkan saya pada seorang filsuf Leibniz di permulaan abad 18. Adalah Leibniz yang pertama kali menggunakan istilah idealisme.

Idealisme berpangkal pada kata ide. Bagi saya ide adalah alam dalam jiwa. Bagi Plato, ide adalah dunia di dalam jiwa. Soal ide, bagi saya tak hanya sekadar ‘dunia’ tapi adalah ‘alam semesta’ yang indah. Karena produk pikiran yang jernih adalah nirwana.

Saya berpikir, pikiran saya melahirkan bayang-bayang. Bayang-bayang saya sempurnakan menjadi ‘ide’. Dari sebuah ide yang ranum, ia melahirkan materi. Mustahil rasanya sebuah ide melemparkan hal ihwal yang beraroma materi. Untuk itu, saya konsepkan apa yang saya sebut sebagai sesuatu “ketika”. Yakni, ketika satu pikiran melahirkan sejuta materi, tapi sejuta materi belum tentu melahirkan satu pikiran.

Beruntunglah orang-orang yang berpikir dan menggunakan kekuatan pikirannya untuk hidup dan menjadi lebih hidup.

Setidaknya dalam Alquran terdapat 49 kali  Tuhan menyuruh kita berpikir. Tak ada malang sepayah manusia yang tidak menggunakan pikiran, dan tidak mengerti dan susah memahami. Saya mengira, ketika kita sedang berpikir, pada saat itu doa sedang ‘terbangun’ dengan sendirinya.

Pertanyaan kita, sejauh mana kita membangun pikiran. Sekuat mana kita menyeriusi jalan pikiran. Dan terkadang kita berpikir, mengapa hidup itu sesuai dengan anggapan. Apakah, pikiran yang membentuk alam, atau alam yang membentuk pikiran. Saya rasa, kita yang ‘membentuk’ alam diri.

Saya meniscayainya, bahwa pikiran adalah energi. Penelitian ilmiah mungkin saja telah menyibak kekuatan pikiran. Mungkin saja ada energi-energi yang luar biasa dalam kekuatan pikiran. Akan menjadi hebat ketika pikiran itu disertai oleh akal dan budi. Ia menjadi pikiran yang bermoral.

Kembali kepada idealisme, apa benar ia?

Sesuatu yang bermuatan moral, pasti idealis. Kebenarannya tak terbantahkan. Sesuatu yang etis, hukumnya idealis adatnya benar.

Kecendrungan idealisme itu kritis dan terkadang ekstrim. Karena idealis adalah konsep dari pelahir pikiran.

Ini mengingatkan kita pada guru Plato, yakni Socrates yang hidup di era filsafat kuno Yunani. Socrates adalah filsuf yang unik. Ia tak pernah menuliskan buah karyanya. Pikirannya justru dikenal dunia melalui literatur yang ditulis oleh muridnya Plato. Plato yang membahas pikiran Socrates. Socrates adalah seniman. Ia pemahat patung batu. Socrates tidak tampan. Bahkan ia jarang menggunakan alas kaki. Ia lebih sering menggunakan ‘alas’ pikiran. Ia tiada henti mendatangi orang-orang Athena untuk diajaknya berdiskusi dalam aroma filsafat. Ia tak pernah merasa bijak, justru ia mencari orang-orang yang dianggapnya bijak untuk bercakap-cakap masalah kebijaksanaan. Karena Socrates adalah anak seorang bidan, metode pikirannya ia namakan metode kebidanan. Ia analogikan dirinya sebagai seorang bidan yang membantu kelahiran sebuah pikiran melalui proses dialektika yang larut dan mandalam.

Kemudian lahir ucapan Socrates: “Pada kenyataannya dia memang bijaksana karena dia tidak merasa bijaksana. Sedang orang-orang yang diajaknya berdiskusi adalah orang yang tidak bijaksana karena mereka merasa sebagai orang yang bijaksana."

Karena pikirannya, Socrates dibenci. Bahkan ia dituduh merusak pikiran anak muda. Karena apa yang disampaikan Socrates belum diketahui kebenarannya. Socrates disudutkan pada peradilan yang mengakhiri masa hidupnya.  Socrates meninggal pada usia tujuh puluh tahun dengan meminum racun. Pengadilan memutuskan setelah 280 orang mendukung dihukum matinya Socrates dan 220 orang lainnya menolak. Ketimbang dihukum mati dan mengorbankan ‘kebenaran’ alam pikirannya, Socrates lebih memilih minum racun!

Ekstrim nian!

Dan sebenarnya tak ada orang yang sudi mengorbankan idealismenya yang terbangun dalam jiwanya di alam pikiran. Tak ada pergesaran untuk sebuah idealisme, yang ada adalah penyempurnaan idealisme menuju sebuah kebijaksanaan.

Orang-orang yang berpikir adalah orang-orang yang bijak. Namun, orang-orang yang berpikir dan tak mau dibantah sekalipun pikirannya tertolak, bukanlah seorang yang idealis. Ia adalah seorang kepala batu. Seorang idealis adalah seorang yang berkepala dengan akal, hati dan otak. Bukan dengan keinginan-keinginan keras yang terjajah oleh keakuan sendiri.

Orang bijaksana adalah orang yang pikirannya diterima oleh ruang dan waktu. Bukan orang yang maunya menang sendiri, merasa pintar sendiri, merasa hebat sendiri dan merasa menjadi konsultan atas diri sendiri. Untuk itu, hati-hati membidani pikiran untuk diri sendiri dan untuk orang lain.

Jangan sampai, sampah dikira atau dianggap sesuatu yang diberi cap sendiri dengan “idealisme” produk “ego”.

Mengapa kita tak belajar pada Socrates yang merasa dalam dirinya tak ada kebijaksanaan karena ia tak pernah merasa bijak. Kebijakannya adalah ‘kebijakan sosial’ yakni setelah ia mengumpulkan orang-orang untuk berdiskusi membidani kelahiran sebuah pikiran. Ketika pikiran telah lahir, ia berpantang untuk setapak mengasaknya; karena pikirannya telah melalui uji kelayakan publik dan kemudian menjadi cakrawala di buku pengetahuan dari satu masa ke masa yang lain.

Hidup pikiran yang baik.

Salam pada alam semesta!