NOVEL KARANGAN DR AGUS TAHER, GILA...!

Iklan Semua Halaman


Header Menu

NOVEL KARANGAN DR AGUS TAHER, GILA...!

Redaksi
Selasa, 31 Desember 2019


Di Balik Novel Pendekar Sakti Bukit Sam Bong

catatan: Pinto Janir (budayawan)

Kita patut bangga, ranah ini memiliki Agus Taher !

Agus Taher. Sudah sejak lama nama ini fasih di ruang pikiran saya. Saya mengamati dan menikmati segala karya lagunya. Dengan jiwa, ia mengundang aksara. Dengan pengetahuan, ia menyaring kata-kata. Dengan cita rasa, lagunya tersusun menyentuh hati dan ingatan dalam warna warni nuansa. Kemudian, lagu itu bertaman dan seakan tak terpadamkan dan tak teruntuhkan oleh badai zaman yang kian menggila saja.

Ruang zaman memang tak berdinding. Ruang waktu memang tak berbatas. Ruang laut beradat tepian. Namun, seluas-luas laut, pantai menjadi tempatnya menepi, teluk menjadi tempatnya bersunyi-sunyi.



Sastra berteluk di hatinya, berdermaga menyandarkan butiran aksara untuk dititipkan pada masa.

Lalu, apa hubungannya dengan karya Agus Taher?

Karya Agus Taher adalah “alam” lain yang tak terukur. Karena, ia adalah ‘cakrawala’ lapang seperti jiwa yang “tahu”.

Agus Taher adalah penyair yang bersembunyi di ruang “lagu”. Ia bak sastrawan di taman bunga di mana musiknya tak pernah berhenti.

Ia adalah “pengetahuan” itu sendiri.

Jiwa yang tak “tahu” akan menjadi jiwa yang sempit. Jiwa yang tak tahu, akan menjadi jiwa yang gugup. Jiwa yang tak tahu hanya akan menjadi “jiwa” yang percuma yang kehadirannya dianggap tak pernah ada.

Agus Taher adalah jiwa yang ada !

Ia berkarya dengan hati. Ia berpikir dengan akal. Ia berbuat dengan rasa. Bukankah, sesederhana-sederhananya ‘lirik’ bila ia diundang dengan rasa, maka ia akan hidup dan mampu membawa kita pada sepotong kenangan. Magis tembang itu adalah ketika ia “menyeret” kita pada sebuah ruang tertentu. Bagi saya, nyaris tiap lagu yang diciptakan Agus Taher adalah lagu-lagu yang “hidup” di hati yang mengharmonisasi jiwa.

Agus Taher dan karyanya adalah kisah. Agus Taher dan pilihan katanya adalah elegansi rasa.
Pernah saya berkata, novel yang paling singkat itu adalah lirik lagu. Ribuan kata-kata di ratusan halaman sebuah novel dengan 4 bait lirik menjadi selesai pada sebuah lagu.



Saya tidak perlu terkejut benar ketika Agus Taher memperlapang ruang karyanya. Ia seakan-akan mengembangkan empat bait lirik lagu menjadi ribuan kata-kata di ratusan halaman sebuah novelnya.

Saya sudah bilang, novel yang paling singkat adalah sebuah lagu. Agus Taher sudah menciptakan ratusan lagu dan melambungkan banyak penyanyi Minang ke pentas pop musik kita. Ratusan lagu sudah yang digubah Agus Taher.

Konklusinya, Agus Taher adalah “novelis”. Bila dulu bentuk novelnya adalah lagu, kini berbentuk buku.

Saya membacanya.

Pendekar Sakti Bukit Sam Bong. Begitu judulnya. Novel ini berkisah sekitar tahun 1360-an, di masa pemerintahan Dinasti Yuan. Riwayat cerita seruang dengan masa jaya Majapahit dan Pagaruyung. Ketika itu, bangsa Cina tertindas.Terzalimi. Konspirasi.Kejahatan. Kelicikan. Kebobrokan moral menjadi kanvas lukisan para penguasa. Klasikal pengkhianatan mengaromakan bangkai yang dipaksa untuk dianggap wangi.

Biarlah kepala berkubang asal tanduk mengena tergambar di novel ini. Jangan bicara harga diri. Jangan bicara martabat.Jangan bicara marwah. Tak ada itu. Yang ada adalah ‘politik transaksi’. Masa ini adalah masa uang menjadi “Tuhan”. Uang menjadi raja, moral menjadi budak.



Ketertindasan. Kezaliman.Kesemena-menaan. Lalu, laparkan rakyatmu, maka tunggulah api revolusi akan berkobar!

Ruang-ruang jahat yang diciptakan penguasa adalah ruang yang berpotensi juga melahirkan dan memunculkan pahlawan.

Pendekar Sakti Bukit Sam Bong melahirkan Gan Fau Czi,satu-satunya murid pendekar sakti Bulek Sansu. Gan Fau Czi terpaksa meninggalkan kekasihnya Lin Hwa, memburu jejak Bulek Sansu yang sudah lama bersemedi di belantara Bukit SAM BONG. Pedang Penebas Naga adalah ilmu tersakti dan paling dicari di Tiongkok. Ilmu itu diwarisi kepada Gan Fau Czi.

Ada seorang pendekar hebat, Tiong Bong Kok namanya. Tiong Bong Kok menjadi penguasa di Sungai Ngiang Minangkabau, lebih dikenal sebagai Tiang Bungkuak. Ia memiliki keris bungkuk buatan Empu Gandring, empu keris dari tanah Jawa.

Menarik. Cerita silat ini tak terlepas dari kehebatan budaya Cina, Minangkabau dan Nusantara. Ada kisah lain yang mengalir di novel ini, yakni kehebatan Gajah Mada. Garah orang Piaman, dan terpatah-terpatahnya orang Cina berbahasa nusantara, menjadi daya pikat tersendiri di novel ini.

Seperti Ko Ping Ho yang tak pernah ke China, tapi dengan detil imajinasinya mampu dan dapat memetakan hampir di tiap sudut suasana di nagari China. Saya bukannya ingin membandingkan Agus Taher dan Ko Ping Ho. Tidak. Saya hanya ingin mengatakan bahwa imajinasi Agus Taher seliar liar imajinasi seorang legend novel silat atas nama Ko Ping Ho.

Menulis kisah berseting enam abad na silam, sungguh; tidaklah mudah. Apalagi bila kisah itu ‘berjaring lawa-lawa’ sejarah. Orang paham sejarah belum tentu mampu menciptakan fiksi sejarah. Begitu juga halnya dengan, orang yang pandai menyusun kata menjadi kalimat, kalimat menjadi novel, juga belum tentu mampu membuat novel bernuansa sejarah. Yang mampu menciptakan fiksi sejarah adalah orang-orang yang dikarunia Tuhan dengan “kecerdasan”. Cerdas kata.Cerdas rasa dan imajinasi. Cerdas propaganda.Cerdas sugesti. Cerdas pengetahuan. Dan hanya kecerdasan-kecerdasan itu yang mampu menjadi “jembatan waktu” bagi pembaca untuk berada di ruang novel masa lalu.



Agus Taher berhasil mengantarkan kita dan bersama-sama “terjebak” dan “merasa” terlibat dan merasa ada di kisah Pendekar Sakti Bukit Sam Bong.

Banyak orang yang pintar menulis, tapi hanya sedikit yang cerdas menulis. Orang cerdas pasti pintar.Orang pintar atau orang ‘pandai’ belum tentu cerdas. Institut atau akademi adalah ruang melahirkan orang pintar. Kepintaran atau kepandaian dapat dipelajari, sedangkan kecerdasan tidak. Kecerdasan berhukum “ilahiyah”. Orang belajar dulu baru menjadi tahu, pandai dan pintar, sementara orang cerdas adatnya tidak begitu. Kecerdasan berbilik alam bawah sadar, ia berkah istimewa dari Tuhan. Mungkin juga, inilahapa yang dinamakan dengan bakat.

Barangkali, takdir Agus Taher adalah seniman. Menyandang gelar seniman, bagi saya jauh lebih berat daripada seorang “doktor”.

Agus Taher sebenarnya adalah seorang doktor pertanian bidang fisiologi tanaman .Ia lulusan University of the Philippines Los Banos, Filipina. Agus Taher lebih mengemuka sebagai seorang seniman ketimbang seorang ilmuwan. Kini ia menjelma tak saja menjadi sosok penting dalam perjalanan musik minang modern tapi juga sosok yang mewarnai dunia sastra nusantara !

Apa rahasia kecerdasan sastra seorang Doktor H Agus Taher?
ya itu tadi, kecerdasan yang “ilahiyah”.
Salam sastra: Pinto Janir