MEMBUKA RAHASIA HEBAT AQUA DWIPAYANA...! Catatan Pinto Janir

Iklan Semua Halaman


Header Menu

MEMBUKA RAHASIA HEBAT AQUA DWIPAYANA...! Catatan Pinto Janir

Redaksi
Sabtu, 28 Desember 2019


AQUA DWIPAYANA SI PADANG SANG  MOTIVATOR ULUNG...!

Ia yang selalu berpikir jernih. Dan ia yang tak pernah merasa dunia "kiamat" karena kehilangan pekerjaan. Ia pernah menjadi wartawan. Kini ia menjadi motivator papan atas Indonesia. Ia kaya hati.Kaya pikiran. Kaya materi. Ia meniscayai bahwa silaturrahim adalah "obat". Spirit sosialnya pantas dan patut untuk diteladani. Hidupnya adalah hidup yang santun berdasar rasa kasih dan rasa sayang sesama umat !Agak hati saya, menyimaknya, maka besar kemungkinan yang menjadi  energi dalam hidupnya adalah ketika ia mampu menyenangkan orang lain, ketika ia mampu membahagiakan orang lain dan ketika ia mampu melapangkan jalan orang lain.


Pikiran jernih dan hatinya yang tulus, menjadi energi dahsyat dalam hidupnya.


Baiklah, saya ingin bercerita tentang sebuah nama. Itu nama, sudah lama akrab di telinga saya. Semula saya menyangka, ia orang Jawa. Ternyata saya salah duga, rupanya ia orang awak juga. Orang Minangkabau. Saya baru menyadari ini ketika namanya tertera di grup WA Forum Minang Maimbau (FMM).

Dari puluhan grup wa di hp saya, WAG FMM salah satu grup WA yang pesertanya hampir sebagian besar para tokoh/pemuka Sumatera Barat yang banyak bermukim dan sukses di rantau. Tampaknya WAG FMM ‘rumah gadang’ di dunia maya yang menjembatani pikiran rantau dan kampuang halaman.



Pada WAG FMM Ada mantan menteri. Ada pengusaha sukses. Ada seniman hebat. Ada budayawan. Ada artis. Ada politisi. Ada pejabat. Ada praktisi.Ada akademisi. Dan tentu saja, ada “rasa” bersaudara yang dekat sesama orang Minangkabau.

Ya, narasi ini bermula dari FMM, kawan !

Melafaskan nama FMM, saya harus menyampaikan rasa salut kepada insan bernama Firdaus HB. Ia pendiri grup WA ini. Sehingga WA FMM seakan menjelma menjadi jembatan atau yang “menghimpun” pikiran-pikiran Minangkabau dalam dialektik yang tetap bersandar pada kata yang empat.

Taka ada emosi yang berlebihan. Tak ada pikiran yang tendensius di ruang egoistik personal. Tak ada itu. Tak ada itu, sanak. Bila ada perbedaan pendapat di FMM, maka hulunya adalah kejernihan, muaranya adalah pintu atau jendela pembuka cakrawala. Kalaupun ada misalnya, cabik karena kata, kusut karena lidah…maka cabiknya tak lebih dari cabik-cabik bulu ayam saja ….dan kusutnya bukan kusut sarang tempua.



Tetap spirit berdunsanak menyala. Tetap bersilaturahim dalam senyum dunia maya.

Di FMM, saya bertumpang bangga. Betapa banyaknya orang-orang hebat dari Minangkabau yang mewarnai alam nusantara dalam nafas satu bangsa. Ternyata, makin hebat seseorang maka makin rendah ia menempatkan hati sehingga makin tinggi marwah dirinya yang bertahta di ruang kemuliaan sosial.

Dari sekian banyak orang hebat di FMM, ada satu orang hebat yang ada di ruang pikiran saya sejak lama. Bukan saya berpikir sempit, bukan pula saya terjebak karena berpikir emosional, sehebat apapun orang itu, biasanya saya menanggapinya biasa-biasa saja kalau ia tak pernah melakukan apa-apa di ruang kemanfaatan sosial dan lingkungan.

Tapi, begitu saya tahu, ada orang hebat yang sangat sosialis dalam segala kerendahan hatinya, maka otomatis rasa santun dalam hati saya langsung menabikkan salam pada jiwanya yang bersih.



Apalagi kalau saya mengetahui bahwa ia adalah orang Minangkabau, maka segala sinyal dalam diri saya hidup untuk memberi hormat padanya. Jantung saya hormat. Hati saya hormat. Kulit saya hormat. Limpa saya hormat. Dan darah yang mengalir di nadi saya juga menabikkan kata-kata hormat !

Hormat alam pada jiwa yang mulia adalah nyanyian ketulusan tanpa irama. Sikapnya adalah lagu, walau tanpa nada. Perbuatannya adalah lirik walau tanpa aksara. Ia adalah jiwa yang penuh kasih sayang !

Mulialah dikau wahai sahabat jiwa.

Siang beberapa hari yang lalu itu, saya baru saja pulang dari studio musik. Saya baru menyelesaikan lagu untuk sahabat saya yang namanya H Buyung Lapau. Seperti biasa. Saya bikin kopi. Saya buka leptop. Saya melanjutkan dan mengangsur-angsur menyelesaikan sebuah novel silat yang tak kunjung-kunjung tamat.

Karena tak kunjung-kunjung tamat, novel ini sudah saya sindir dengan sebuah puisi berjudul “Novel Ditinggalkan Pengarang”. Sebenarnya, saya sedang menyindir imajinasi saya sendiri yang tak kunjung-kunjung jinak yang selalu membujuk saya untuk bercengkrama dengan aksara.

Ketika saya sedang berupaya membujuk diksi, saya melihat ke dinding ruang di mana di sana tergantung lukisan saya. Kala itu saya “masuk” ke alam lukisan sendiri. Saya terseret imajinasi. Tarian ilusi sedang asik di ruang benak saya .

Ha…bagaimana pula ini. Mendadak sengiang nama hinggap di hati. Saya buka kontak personalnya.

Pertama, saya kirimkan lagu Haji Buyung Lapau yang baru saja saya selesai. Kala itu ya 11.18. Beruntun saya tulis di japrinya itu: “ Salam kenal sanak awua Dwipayana “ yang saya imbuhi dengan emoji salam hormat (11.20). Saya lanjutkan lagi mengirim WA : “ Maaf sanak. Salah ketik…Aqua “.Itu bertanda pukul 11.50.

Ulala….

Owaiiiik !

Dua menit kemudian, ia membalas : “Aww, siap Uda PINTO JANIR. Alhamdulillah… Semoga Uda PINTO sekeluarga sehat2 n selalu mendapatkan yg terbaik dari ALLAH SWT. Aamiin ya robbal aalamiin… Salam hormat buat keluarga. Makasih banyak Uda PINTO”.

Ketika kalimat ini sampai di hati saya, insting bathin saya seakan membangun jembatan untuk terhantar pada insan bernama Aqua Dwipayana.



Eh, betapa rendah hatinya sosok ini. Betapa santunnya seorang Aqua. Ini sama sekali tak saya duga. Dugaan saya, tokoh hebat sekelas Aqua tentulah akan menganggap pesan WA ini adalah sampah belaka. Apalagi yang me-WA orang biasa seperti saya—orang-orang yang tak terpetakan yang hanya sepantun sebutir pasir di gurun sahara—manalah akan dilayani Aqua.

Tujuh menit kemudian saya membalasnya :” Salam utk keluarga uda Aqua. Sanang hati dan bangga rasonyo mandanga kaba sanak wak nan sukses di pentas nasional. Sungguh , ambo bangga sangaik pado sanak. Teruslah kibarkan pikiran pikiran Minangkabau biar aroma wanginya mengharumkan nagari awak. Dan itu memperkuat daya marwak minangkabau. Uda sangat hebat. Memotivasi insan atau umat utk menciptakan hidup sekali lebih berarti itu adalah ibadah…Salam hangat dari ambo nan di kampuang utk keluarga uda di sini…”.

Sembilan menit kemudian, Aqua membalas chat saya : “Siap Uda PINTO. Alhamdulillah… Mohon doa, arahan, bimbingan, n nasihatnya ya. Saya belum banyak berbuat. Masih harus banyak belajar pada banyak orang termasuk ke Uda PINTO tentunya. Aamiin ya robbal aalamiin… Insya ALLAH kalau ke Padang saya silaturahim ke Uda PINTO. Silakan mampir jika Uda PINTO ke Bogor atau Yogyakarta. Salam Uda PINTO insya ALLAH saya sampaikan ke keluarga. Makasih banyak Uda PINTO untuk semuanya”.

Sembilan menit kemudian, saya membalas:” Kalau uda Aqua ke Bukittinggi, kami sekeluarga menunggu dgn sangat senang hati”.

Tak berselang lama, 5 menit berlalu, Aqua membalas : “Siap Uda PINTO. Insya ALLAH Kamis pagi (2/1/2020) saya ke Bukittinggi. Dengan senang hati saya silaturahim ke Uda PINTO. Aamiin ya robbal aalamiin… Makasih banyak Uda PINTO”.

Saya menjawab di 13.50: “ Wah, senang hati rasonyo…awak tunggu uda di bkt”.



Pada 13.53 Aqua balik menjawab: “Siap Uda PINTO. Alhamdulillah n aamiin ya robbal aalamiin… Saya tinggal di Bogor n ada rumah di Yogyakarta khusus buat tamu2. Silakan Uda PINTO sekeluarga nginap di rumah Yogyakarta saat ke sana. Saya tunggu. Makasih banyak Uda PINTO”.

Semenit saya membalas: “Ya. Alhamdulillah. Sudah lama tak libur bareng keluarga ke Yogyakarta…Ingin sekali ngajak istri dan anak anak ke yogya….Dan sebelumnya, kami sekeluarga menunggu uda dan keluarga di Bukittinggi…”.Kemudian saya lanjutkan dengan pikiran dan usulan spontan pada Aqua: “ Awak ada rencana…utk membuat puisi inspirasi utk nagari, bareng uda aqua…Kita bikin puisi, musik dan motivasi berdua….Kita bikin dlm bentuk vcd…Video klipnya keindahan alam dan budaya minang kabau…Kolaborasi AQUA DWIPAYANA DAN PINTO JANIR dalam sentuhan seni dan budaya, wak rasa menarik juga…Negeri ini butuh daya optimis…tak boleh baper berlebihan….Bangga rasanya dapat berkarya bareng uda…Aqua Dwipayana. Kita bicarakan apa dan bagaimana konsep dan bentuknya nanti di Bukittinggi. Kini saatnya para budayawan Minangkabau beriya iya..”.

Lima setelah itu, Aqua menjawab begini: “Siap Uda PINTO. Alhamdulillah… Kalau begitu silakan Uda PINTO sekeluarga jadwalkan liburan ke Yogyakarta ya. Insya ALLAH saya siapkan juga mobil n sopir selama Uda PINTO di Yogyakarta. Anak Uda PINTO berapa orang? Apakah semuanya di Bukittinggi? Saya ngga bisa membuat puisi n musik. Kemampuan saya terbatas sekali. Saya setuju dengan pemikiran Uda PINTO yakni Negeri ini butuh daya optimis…tak boleh baper berlebihan… Insya ALLAH saat ketemu di Bukittingi kita diskusi ya. Saya ingin belajar banyak pada Uda PINTO. Aamiin ya robbal aalamiin… Makasih banyak Uda PINTO”

Pada 14.18 saya membalas lagi: “Uda…anak ambo tigo…Nan gadang padusi, kuliah di Bakrie University. Semester akhir. Nan bujang kuliah di LSPR Jkt. Nan bungsu, laki laki. Kelas 2 SMA di SMA 2 Bukittinggi. Uda…ambo nan harus banyak baraja ka uda. Tarimokasih Uda Aqua. Sanang jo sajuak hati ambo mandanga karamahan dan rendah hatinya uda. Segera, ambo skedulkan liburan keluarga…ke Yogyakarta…Salam kami sekeluarga”.

Pada 14.22 Aqua menulis begini di japri itu : “Siap Uda PINTO. Alhamdulillah… Mantap sekali semua pendidikan anak2 Uda PINTO. Semoga kuliah n sekolahnya lancar n semua cita2nya terwujud. Aamiin ya robbal aalamiin… Makasih banyak Uda PINTO untuk semua infonya yg sangat bermanfaat.”.

Pada 14.24 saya membalas: “Sekali lagi. Salam hangat. Dan maraso mandapek dunsanak baru ambo, da…”

Pada 14.25 Aqua menulis:” Siap Uda PINTO. Alhamdulillah… Samo2 yo. Mokasih banyak Uda PINTO”.

Saya membalas tanpa kata dengan satu emoji salam. Dan Aqua membalasnya dengan empat emoji salam.



Begitulah. Itu hari kami berbincang di WA dari 11.18 hingga 14.46.

AQUA DWIPAYANA

Dua anak saya yang kuliah di jakarta, dua-duanya jurusan komunikasi. Ketika saya kabari nama Aqua Dwipayana, anak-anak saya merasa sangat senang dan bangga. “ Pak Aqua itu pakar komunikasi hebat tu Pi. Kenalkan abang sama Pak Aqua ya Pi”, kata Ivand Azza Bahana anak laki-laki saya yang kuliah di Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi The London School of Public Relation (LSPR) Jakarta yang berkampus di jalan Sudirman.”Pi nyaris kami mahasiswa komunikasi mengenal nama Pak Aqua Dwipayana. Beliau sangat hebat Pi”, ujar anak saya Fioletica Visi Ilahi yang kuliah semester akhir di Bakrie University Jakarta.

Dua anak-anak saya dengan senang hati berkata: “ Titipkan salam kami Pi !”.

Hidup itu adalah membaca. Hidup itu adalah menyimak. Hidup itu adalah mendengar. Hidup itu adalah menganalisis. Hidup itu adalah kesimpulan yang tak pernah selesai karena selalu diwarnai dengan kemungkinan-kemugkinan.

Walau hidup adalah berlapis-lapis kemungkinan, tapi bila bersandar pada keyakinan bermesin pikiran dan hati, maka ia menjadi kebijaksanaan akal. Adatnya , cendrung benar.

Adalah benar bila saya terseret ke ruang “bathin” Aqua yang membuat imajinasi saya mengalir yang bermuara pada telaga bening Aqua yang bertepian kemuliaan sosial.

Walau saya belum pernah bertemu lahir dengan Aqua, namun pertemuan bathin telah mengirim citra elok pada Aqua punya sosok.

Pada dunia digital ini, bagi saya “silaturahim” tak harus bermuka lahir, bercakap-cakap dengan kejujuran jauh lebih kuat jalinan silaturahimnya ketimbang bercakap-cakap dalam tampak badan tapi hati terusuruk.

Aqua memberikan banyak pelajaran pada hidup saya di era “maya”. Saya yakin, Aqua adalah orang “baik” dan selalu berbuat baik pada siapa saja. Sosok seperti Aqua adalah sosok “orang sehat” yang senang bila dapat menyenangkan hati orang.

Saya yakin, Aqua dekat dengan banyak orang. Dengan saya yang belum bertemu muka saja, Aqua dengan sangat cerdas menciptakan ruang “nyaman” dalam koridor berdunsanak. Ia sungguh sangat rendah hati walau namanya “melangit”.

Aqua itu mantan wartawan. Tapi, saya keberatan dengan sebutan “mantan” wartawan. Selagi ia berpikir. Ia terus “berlisan” dan “bertulisan” maka tak ada istilah “mantan” dalam dunia pikiran. Dunia wartawan adalah dunia pikiran itu sendiri.Adalah dunia solutif. Adalah dunia dinamis. Aqua, bagi saya adalah “wartawan sejati”.
Saya masih ingat apa yang disampaikan Adinegoro dalam sebuah bukunya, bahwa wartawan sejati adalah wartawan yang senantiasa menjadi seorang aktivis sosial yang suka membukakan“pintu” bagi orang lain.



Saya dan Aqua, sama-sama berlatar belakang wartawan.

Banggalah kita sebagai orang Minangkabau, karena masih ada Aqua Dwipayana yang membuat negeri ini terus bermarwah. Marwah nagari itu ada karena anak nagarinya “berprestasi”.


Sebelum menulis ini, saya menelpon Uda Firdaus HB. Tokoh muda Sumatera Barat yang gemar “menyatukan” orang-orang hebat Minangkabau. “ Aqua Dwipayana. Urang awak. Kedua orangtuanya asal Sumatera Barat. Kalau tidak salah ibu Pak Aqua berasal dari Bungus kota Padang dan ayahnya dari Ombilin Solok”, kata Uda Firdaus HB.

Yang lebih meggembirakan sekali, Aqua sangat peduli pada Minangkabau. “ Aqua, sosok yang sangat cinto pado kampuang halaman…!”.

Aqua motivator nasional. Ia terkemuka di ruang ini. Coba klik nama Aqua Dwipayana di google, maka kita akan tahu betapa kerennya seorang Aqua.

Ketika banyak orang bicara tentang “silaturahim” dalam sehari-hari tapi hanya sedikit yang benar-benar menjadikan silaturrahim bagai tali “rahim” yang mengikat penuh kasih sayang dalam kehidupan yang harmonis di alam yang rahmatan lil alamin.

Mengapa Aqua Dwipayana hebat?

Saya rasa, karena Aqua merawat, menjaga,menjalin silaturrahim dan ia laksanakan dengan ikhlas di ruang kehidupan. Ilmunya ilmu padi. Aqua merawatnya.Aqua menjaganya. Aqua mempraktikkannya.

Saya makin bangga pada Aqua, karena ia orang Minangkabau yang mewarnai dan memotivasi pikiran orang banyak untuk hidup lebih bermakna, lebih positif yang mengharmonisasi alam di ruang keteduhan yang cerah !

“Dakwah” Aqua di ruang sosial adalah puisi pencerahan yang tak pernah gelap.

Menurut saya, sedeqah dan silaturrahim adalah “obat” yang membuat hidup kita menjadi sehat dan berkah karena hati bersih pikiran jernih.

Aqua, teruslah hidup dalam nafas silaturahim yang mulia…

Aqua salam berkarya.
Mari kita sama-sama berpuisi untuk ini negeri !

Pinto Janir 28 Desember 2019