KEBENCIAN MEMPERSEMPIT RUANG

Iklan Semua Halaman


Header Menu

KEBENCIAN MEMPERSEMPIT RUANG

Redaksi
Minggu, 08 Desember 2019

Catatan : Pinto Janir

Kebencian berlebihan dan kedengkian mempersempit ruang dada. Kebencian berlebihan dan kedengkian menumpulkan segala rasa kebajikan. Kebencian berlebihan dan kedengkian berpotensi mengotori pikiran dan menggelapkan mata hati kita. Kebencian berlebihan dan kedengkian merusak cita rasa. Kebencian berlebihan dan kedengkian adalah hulu dari segala permusuhan yang bermuara pada kesengsaraan jiwa dan membuat raga benar-benar menjadi dan jatuh sakit sendiri.

Ada kalanya orang cerdas menaklukkan lawannya dengan cara menyulut kebencian dan menciptakan kedengkian di dada musuhnya hingga pikiran musuhnya tak jernih lagi karena sibuk dengan kebencian dan kedengkian sendiri.

Di saat kita sibuk terjebak di ruang kebencian dan kedengkian, orang yang kau anggap musuh, mungkin saja sedang berhati riang dan menciptakan karya gemilang bergudang-gudang.
Sementara, karena hatimu rusuh pikiranmu keruh, hari-harimu menjadi tak enak selalu karena penuh dengan segala keluh. Akhirnya, kau tak bisa berbuat apa-apa selain memperbesar kebencian dan kedengkian di ruang hidupmu yang ringkih dan lusuh.

Apa jalan keluarnya?

Jangan mau terjebak oleh kebencian yang dilempar orang lain kepada kita.

Jinakkan diri dengan akal, maka niscaya dengki terlempar dalam batang tubuhmu dan tak akan pernah menjajah hatimu leluasa.

Untuk apa disebut sebagai "aktivis massa" bila dari pikiran kita yang keluar adalah kata-kata benci dari hati yang dengki yang dimuntahkan dari perkataan yang paling buruk?

Mandi di ilia-ilia, bakato di bawah-bawah. Tak perlu tinggi hati, tak perlu sombong diri. Yang perlu itu adalah bermimpi tinggi-tinggi, kerja keras, berdo'a dan percaya diri dalam segala kerendahan hati.
Apapun rumusnya, tak ada keberhasilan atau sukses hidup yang didapat dengan mudah!
Bila melihat dan mendengar orang di samping dan di kanan kita sukses dan hebat, jangan kau hujat; tapi lekas beri ucapan selamat.

Bila perlu, bukakan atau lapangkan jalan untuk kawan. Kalau jalan yang kau buka untuk kawan itu kelak membuat ia sampai di tujuan--kalau suatu saat ia lupa padamu dan mengecilkan arti 'jasamu' -- tak usah berkecil hati.

Mari kita saling membesarkan kawan, bukan saling sibuk mengecilkan dan membunuh kawan sendiri. Mendengar kawan menjadi besar, terima dengan senang dan besar hati.

Tak perlu sinis apalagi membenci. Jangan pernah merasa gagah sendiri, merasa hebat sendiri, merasa paling pintar sendiri dan merasa paling benar sendiri. Kalau apapun yang dibuat orang lain selalu buruk di ruang matamu, lekas periksa hatimu.

Bila itu terjadi itu pada dirimu, itu suatu sinyal bahwa kau "gagal rasa" kawan !
Bila pun kau ingin mengeritisi, keritiklah tanpa harus melukai dengan membukakan pintu dan jendela, biar terlihat lapangnya cakrawala dan cerahnya matahari serta indahnya bulan.

Dan jadilah seorang pekarya yang percaya diri yang memiliki hati nurani.

Seorang pekarya sejati adalah seseorang yang senantiasa memanfaatkan ruang dan waktunya untuk melahirkan karya cipta, kebaikan dan kebajikan biar ia tercatat di ruang sejarah pemberi manfaat kehidupan untuk insan dan alam semesta.

Selagi kau masih candu meremehkan orang lain, yakinlah bahwa kau tak akan pernah benar-benar menjadi "penting".

Daripada memelihara benci berlebihan dan iri dengki tak berketentuan, lebih baik merawat mimpi-mimpi manis !

Parakkopi 23022018